Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Reni Astuti: PISA 2025 Jadi Momentum Evaluasi, Mutu Pembelajaran Harus Jadi Prioritas

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

    Surabaya (16/09) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Reni Astuti, menilai hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 harus menjadi momentum evaluasi dan penguatan kebijakan pendidikan nasional, khususnya dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

    Reni mengatakan, hasil PISA 2025 memberikan dua pesan penting. Di satu sisi, Indonesia patut mengapresiasi peningkatan skor pada sains dan membaca serta keberhasilan memperluas akses pendidikan. Namun di sisi lain, masih terdapat pekerjaan besar untuk memastikan setiap anak benar-benar memiliki kompetensi dasar yang kuat.

    “PISA 2025 menunjukkan ada progres yang patut kita apresiasi. Skor sains Indonesia naik dari 383 menjadi 389, sementara membaca naik dari 359 menjadi 365. Tetapi matematika turun dari 366 menjadi 364. Artinya, kita tidak boleh berhenti pada apresiasi, tetapi harus menjadikan hasil ini sebagai bahan evaluasi serius untuk memperbaiki kualitas pembelajaran,” ujar Reni.

    Berdasarkan hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026, Indonesia berada pada skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. OECD juga mencatat bahwa secara keseluruhan capaian Indonesia pada 2025 relatif sama dengan 2022, sementara masih berada di bawah rata-rata OECD pada ketiga bidang tersebut.

    Reni menyoroti lebih jauh persoalan kompetensi dasar siswa. Data OECD menunjukkan hanya sekitar 37 persen siswa Indonesia yang mencapai minimal Level 2 dalam sains, 27 persen dalam membaca, dan 17 persen dalam matematika. Dengan demikian, sebagian besar siswa Indonesia masih berada di bawah tingkat kompetensi dasar yang diharapkan dalam PISA.

    “Ini yang menurut saya harus menjadi perhatian utama. Kita sudah berhasil memperluas akses pendidikan secara signifikan, tetapi pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan anak-anak yang sudah masuk sekolah benar-benar mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas,” tegasnya.

    Dalam paparan yang disiapkannya untuk Workshop Pendidikan 2026, Reni mencatat bahwa cakupan anak usia 15 tahun yang berada dalam pendidikan formal meningkat dari sekitar 46 persen pada 2003 menjadi 90 persen pada 2025. Namun, tantangan pendidikan kini semakin bergeser dari persoalan akses menuju mutu pembelajaran.

    Menurutnya, peningkatan kualitas tidak cukup dilakukan dengan menambah anggaran atau perangkat teknologi. Pemerintah perlu memastikan investasi pendidikan berdampak langsung terhadap kemampuan literasi, numerasi, sains, karakter, dan kemampuan berpikir kritis siswa.

    “Jangan sampai keberhasilan kita diukur hanya dari berapa banyak sekolah yang dibangun, perangkat digital yang dibeli, atau berapa besar anggaran yang terserap. Ukuran akhirnya adalah apakah anak-anak kita semakin mampu membaca dengan pemahaman, bernalar secara matematis, memahami sains, memecahkan masalah, dan berpikir kritis,” kata Reni.

    Karena itu, Reni mendorong empat agenda yang juga menjadi bagian dari rekomendasi pasca-PISA 2025 dalam paparannya, yaitu peningkatan kompetensi guru, transformasi pembelajaran, penyelarasan asesmen melalui Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA), serta penguatan peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).

    Ia menilai posisi guru tetap sangat strategis di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial. Guru tidak cukup hanya dibekali kemampuan menggunakan perangkat digital, tetapi harus diperkuat sebagai perancang pengalaman belajar yang mampu memahami kebutuhan setiap peserta didik.

    “Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan tujuan pendidikan. Guru tetap menjadi aktor utama dalam membangun proses belajar yang bermakna. Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus dilakukan secara berkelanjutan melalui komunitas belajar, praktik, umpan balik, dan pendampingan, bukan sekadar pelatihan satu kali,” jelasnya.

    Baca Juga: Reni Astuti: Teknologi Harus Menguatkan Guru, Bukan Menggantikan Perannya

    Reni juga mengingatkan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya menghasilkan anak yang unggul secara akademik. Pendidikan harus membentuk generasi yang berkarakter, sehat, kreatif, adaptif, mampu bekerja sama, memiliki kecakapan digital sekaligus etika, serta mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri Indonesia.

    “Indonesia Emas 2045 tidak lahir hanya dari anak-anak yang bisa menggunakan teknologi. Kita membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkarya, berempati, dan bertanggung jawab. Karena itu, hasil PISA 2025 harus kita baca sebagai panggilan untuk bekerja lebih serius, bukan sekadar melihat posisi peringkat,” pungkasnya.