Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Reni Astuti: Teknologi Harus Menguatkan Guru, Bukan Menggantikan Perannya

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Surabaya (14/09) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Reni Astuti, mendorong pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan dilakukan secara bijak, aman, dan tetap menempatkan guru sebagai pengambil keputusan utama dalam proses pembelajaran.

Hal tersebut disampaikan dalam Kegiatan Workshop Pendidikan dengan Tema Digitalisasi Pembelajaran bersama Kemendikdasmen RI pada hari Minggu (13/9/2026) di Surabaya. Kegiatan tersebut menghadirkan guru/tenaga pendidik dari jenjang PAUD dan SMP sebagai peserta kegiatan.

Menurut Reni, digitalisasi pendidikan tidak boleh dimaknai sebatas pengadaan perangkat teknologi di sekolah. Ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana teknologi mampu membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan peserta didik.

“Digitalisasi yang berhasil bukan ketika sekolah sekadar membeli perangkat, tetapi ketika guru lebih mampu membantu setiap anak belajar,” ujar Reni.

Ia menyebut penggunaan teknologi dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), misalnya, aktivitas fisik, permainan, interaksi sosial, seni, cerita, dan eksplorasi tetap harus menjadi prioritas, sementara penggunaan layar ditempatkan sebagai alat bantu secara terbatas.

Reni juga mengingatkan pentingnya perlindungan data pribadi, keamanan akun, persetujuan orang tua, serta penguatan etika digital. Peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, termasuk memahami risiko hoaks dan perundungan digital.

Dalam konteks kecerdasan buatan, Reni menegaskan bahwa AI harus ditempatkan sebagai alat bantu guru, bukan pengganti pertimbangan profesional pendidik.

“Anak-anak kita harus memiliki kecakapan digital sekaligus etika digital. Kita ingin mereka mampu memanfaatkan teknologi, tetapi tetap berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab,” katanya.

Reni menilai transformasi digital pendidikan harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas guru. Ia mendorong pelatihan tidak dilakukan sekali waktu, tetapi dilanjutkan melalui komunitas belajar, praktik, umpan balik, dan pendampingan berkelanjutan.

“Teknologi boleh semakin maju, tetapi keteladanan dan sentuhan manusia dari seorang guru tetap tidak tergantikan,” pungkasnya.