Jakarta (16/09) — Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Askweni, mengusulkan kepada Danantara agar pengelolaan aset dan bisnis energi BUMN diarahkan menuju Integrated Energy Value Chain. Menurutnya, integrasi diperlukan agar potensi sinergi dari hulu hingga hilir tidak terhambat oleh sekat antarperusahaan.
Askweni mengatakan paradigma pengelolaan energi perlu bergeser dari pola hubungan yang berjalan secara berurutan, seperti Pertamina–PGN–PLN, menjadi sebuah rantai nilai energi yang terintegrasi. Rantai tersebut dapat mencakup Pertamina Hulu Energi (PHE), Pertamina Gas/LNG, PGN, PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PLN, pembangkit, hingga pelanggan.
“Jangan lagi kita melihat Pertamina, PGN, dan PLN sebagai entitas yang bekerja sendiri-sendiri. Kita harus melihatnya sebagai satu integrated energy value chain, dari sumber energi sampai energi diterima pelanggan,” ujar Askweni.
Menurutnya, integrasi tersebut penting karena setiap mata rantai memiliki kepentingan dan ukuran kinerja masing-masing. Jika setiap perusahaan hanya mengejar KPI korporasinya sendiri, optimalisasi pada satu titik belum tentu menghasilkan efisiensi pada keseluruhan sistem.
“Kalau masing-masing hanya mengejar KPI perusahaan, bisa terjadi optimasi parsial. Yang satu ingin harga terbaik, yang lain ingin biaya terendah, sementara pada akhirnya yang harus kita lihat adalah biaya energi secara keseluruhan, keandalan pasokan, dan manfaat bagi pelanggan,” katanya.
Karena itu, Askweni mengusulkan agar Danantara berperan sebagai portfolio orchestrator yang menyelaraskan kepentingan dan strategi perusahaan-perusahaan energi dalam satu rantai nilai. Danantara tidak harus masuk ke dalam operasional masing-masing perusahaan, tetapi memastikan portofolio dan investasi strategis antarkorporasi bergerak menuju tujuan yang sama.
“Danantara memiliki posisi strategis untuk menjadi portfolio orchestrator. Yang dibutuhkan bukan sekadar konsolidasi aset, tetapi orkestrasi agar seluruh mata rantai energi menghasilkan nilai yang lebih besar bagi negara,” ujar Askweni.
Askweni juga mendorong penerapan KPI bersama atau shared KPI lintas perusahaan. Indikator tersebut antara lain dapat mencakup keandalan pasokan energi, efisiensi biaya dari hulu hingga hilir, utilisasi infrastruktur, optimalisasi gas dan energi primer, efisiensi pembangkitan, hingga keterjangkauan dan kualitas layanan kepada pelanggan.
“Harus ada KPI bersama. Keberhasilan PHE tidak boleh hanya diukur dari kinerja PHE, begitu juga PGN, PLN EPI, PLN dan pembangkit. Kita perlu mengukur keberhasilan seluruh rantai nilai secara end-to-end,” katanya.
Menurut Askweni, pendekatan tersebut juga sejalan dengan kebutuhan memperkuat ketahanan energi nasional. Danantara sebelumnya telah mendorong kolaborasi lintas BUMN, termasuk kerja sama Pertamina dan PLN dalam pengembangan panas bumi.
“Kalau kita ingin membangun ketahanan energi, jangan hanya bicara produksi energi atau pembangkit. Kita harus memastikan seluruh rantainya terhubung, efisien, memiliki pasokan yang cukup dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Askweni.
Ia menegaskan, perubahan paradigma tersebut juga perlu disertai tata kelola yang transparan dan terukur. Komisi VI DPR RI, kata Askweni, dapat mendorong agar integrasi tersebut tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diterjemahkan dalam peta jalan, target, indikator kinerja bersama, serta evaluasi berkala.
“Jangan sampai kita hanya memiliki banyak perusahaan energi yang besar, tetapi bekerja dengan KPI masing-masing. Yang kita butuhkan adalah satu ekosistem energi nasional yang saling menguatkan,” katanya.
Askweni berharap Danantara bersama BUMN terkait dapat mulai memetakan rantai nilai energi secara menyeluruh, mengidentifikasi titik inefisiensi dan potensi sinergi, kemudian menyusun shared KPI yang mengukur penciptaan nilai dari hulu sampai pelanggan.
“Tujuan akhirnya sederhana: energi tersedia, pasokan andal, biaya efisien, BUMN sehat, dan masyarakat mendapatkan layanan energi yang semakin baik. Itu yang harus menjadi ukuran keberhasilan integrated energy value chain,” tutup Askweni.