Mojokerto (04/10) — Anggota DPR RI, Meitri Citra Wardani, mengajak para penyandang disabilitas dari sejumlah komunitas untuk menonton bersama film Istimewa di CGV Sunrise Mall Kota Mojokerto, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menghadirkan pengalaman yang setara sekaligus membangun kepedulian masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Dalam kegiatan tersebut, Meitri hadir bersama para penyandang disabilitas dari National Paralympic Committee (NPC) Mojokerto (Komite Paralimpiade Nasional), Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Mojokerto, Kesuma Indonesia, serta sejumlah komunitas difabel lainnya.
Menurutnya, film Istimewa memiliki pesan yang sangat kuat karena mengangkat kehidupan, perjuangan, potensi, dan hak penyandang disabilitas.
“Hari ini kita nonton bareng dengan teman-teman NPC, PPDI, Kesuma, dan alhamdulillah acaranya luar biasa. Film ini memang sangat istimewa untuk mereka yang Allah berikan keistimewaan,” ujar Meitri.
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VIII ini mengatakan, salah satu alasan dirinya mengajak para penyandang disabilitas menonton film tersebut adalah untuk menghadirkan sebuah pengalaman yang mungkin selama ini belum pernah mereka dapatkan.
Baginya, kesetaraan tidak cukup hanya dibicarakan dalam regulasi atau slogan, tetapi perlu diwujudkan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk menikmati ruang publik dan kegiatan yang sama dengan masyarakat lainnya merupakan bagian penting dari upaya membangun kesetaraan.
“Belum tentu selama ini mereka mendapatkan pengalaman seperti ini. Saya ingin teman-teman disabilitas merasakan bahwa mereka juga punya ruang yang sama, punya kesempatan yang sama. Rasa kesetaraan itu penting kita tumbuhkan, supaya kita bisa berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran kita,” kata Meitri.
Meitri menegaskan, sebagai wakil rakyat, anggota legislatif tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mewakili masyarakat secara umum, tetapi juga memastikan kelompok yang membutuhkan perhatian dan perlindungan memperoleh hak yang setara.
“Setiap manusia memiliki hak untuk hidup layak di segala sektor dan mendapatkan perlindungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Maka setiap fasilitas umum, baik kesehatan maupun fasilitas lainnya, harus disiapkan dan dapat diakses juga oleh penyandang disabilitas,” tegasnya.
Menurut Meitri, kegiatan menonton film Istimewa juga memiliki nilai edukasi bagi masyarakat luas. Film dapat menjadi medium untuk membantu masyarakat memahami kehidupan penyandang disabilitas secara lebih dekat sehingga tumbuh empati, kepedulian, dan sikap saling menghargai.
“Ini juga menjadi edukasi kepada masyarakat. Kita ingin masyarakat lebih memahami teman-teman yang terlahir dengan kondisi yang istimewa, sehingga muncul empati dan kepedulian. Jangan sampai mereka hanya dilihat dari keterbatasannya, tetapi juga dari kemampuan dan potensi yang mereka miliki,” ujarnya.
Meitri mengaku terharu melihat semangat para penyandang disabilitas, khususnya komunitas NPC Mojokerto yang terus mendorong anggotanya untuk aktif dan mengembangkan potensi di bidang olahraga.
“Saya sangat terharu dan antusias melihat semangat teman-teman. Salah satunya Mas Pitri sebagai Ketua NPC Mojokerto yang terus mengobarkan semangat dan memotivasi teman-teman penyandang disabilitas, terutama dalam mengembangkan potensi di bidang olahraga. Saya berharap ini menjadi perhatian khusus,” ungkapnya.
Politisi PKS ini menilai potensi penyandang disabilitas tidak boleh berhenti karena keterbatasan akses. Mereka memiliki kemampuan di berbagai bidang, mulai dari olahraga, seni, musik, hingga berbagai bentuk kreativitas lainnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah, baik pemerintah kota maupun kabupaten, untuk hadir dan membuka lebih banyak ruang bagi penyandang disabilitas agar dapat menunjukkan kemampuan dan berkarya.
“Mereka punya potensi di bidang kesenian, bisa menyanyi, bisa bermain musik, bisa berkarya. Berikan ruang kepada mereka. Kalau ada keterbatasan, pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan pemerintah pusat. Secara regulasi, ruang itu sebenarnya sudah terbuka dan diatur dengan jelas,” katanya.
Lebih jauh, Meitri menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga ingin menyampaikan pesan bahwa para penyandang disabilitas tidak berjalan sendirian.
“Kawan-kawan difabel tidak sendiri. Kami menyayangi mereka, kami memahami mereka, dan kami ingin mereka tahu bahwa ada banyak pihak yang ingin berjalan bersama mereka. Yang mereka butuhkan bukan hanya rasa iba, tetapi kesempatan, ruang, dan dukungan untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu berkontribusi,” pungkasnya.
Bagi Meitri, semangat inklusivitas harus terus dibangun bersama. Kesetaraan bukan berarti memberikan perlakuan yang sama tanpa mempertimbangkan kebutuhan, melainkan memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk menikmati kehidupan, mengembangkan potensi, dan mengambil peran di tengah masyarakat.