Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Kedaulatan Pangan Harus Dimulai dari Pendidikan

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Oleh: Dr. Syahrul Aidi Maazat

Ketua BKSAP DPR RI – Anggota DPR RI Fraksi PKS

Indonesia sering disebut sebagai negeri yang kaya. Matahari bersinar sepanjang tahun, curah hujan relatif tinggi, tanah yang luas dan subur tersedia di banyak daerah, serta keanekaragaman hayati kita termasuk yang terbesar di dunia. Hampir sepanjang tahun kita dapat menanam. Dari padi, jagung, sagu, ubi, sayur, buah, kelapa, hingga berbagai tanaman pangan lainnya dapat tumbuh di negeri ini.

Namun, muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa negeri dengan potensi sebesar ini masih harus mengkhawatirkan ketersediaan pangan dan bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas pangan?

Barangkali persoalannya bukan hanya pada luas lahan, pupuk, teknologi pertanian, harga, atau kebijakan impor. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan bersifat jangka panjang: pendidikan kita belum menjadikan kemampuan menghasilkan pangan sebagai pengetahuan dasar kehidupan.

Kita Belajar tentang Tumbuhan, tetapi Tidak Belajar Menanam

Sejak sekolah dasar, anak-anak Indonesia belajar ilmu pengetahuan alam. Mereka mengenal akar, batang, daun, fotosintesis, herbivora, karnivora, rantai makanan, dan berbagai istilah lainnya. Pengetahuan itu tentu penting.

Tetapi ada ironi yang perlu kita renungkan.

Seorang anak dapat bersekolah selama dua belas tahun, dari SD hingga SMA, tanpa pernah benar-benar diajarkan bagaimana menyiapkan media tanam, mengenali unsur dan karakter tanah, memilih benih, menyemai, menanam, memberi pupuk, mengendalikan hama, memanen, hingga menghitung nilai ekonomi hasil panennya.

Kita mengajarkan anak tentang tanaman, tetapi belum tentu mengajarkan anak untuk menanam.

Di sinilah perbedaan antara knowing dan doing. Pendidikan kita cukup kuat dalam memberikan pengetahuan tentang sesuatu, tetapi belum selalu kuat dalam membentuk kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Padahal, bagi bangsa yang ingin memiliki kedaulatan pangan, kemampuan memproduksi pangan seharusnya menjadi salah satu keterampilan dasar warganya.

Pangan adalah Kebutuhan Pertama Kehidupan

Sebelum manusia membutuhkan kendaraan, teknologi canggih, gedung megah, bahkan sebelum berbicara tentang banyak kebutuhan ekonomi lainnya, manusia membutuhkan makan.

Karena itu, pangan bukan sekadar komoditas ekonomi. Pangan adalah persoalan keberlangsungan kehidupan, kemandirian keluarga, stabilitas sosial, bahkan kedaulatan negara.

Bangsa yang tidak mampu menguasai kebutuhan pangannya sendiri akan selalu memiliki titik ketergantungan kepada pihak lain.

Kedaulatan pangan, dengan demikian, tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan pemerintah menyediakan stok beras atau menjaga pasokan di pasar. Kedaulatan pangan harus dibangun menjadi kemampuan bangsa untuk menghasilkan, mengolah, mendistribusikan, dan mengembangkan sumber pangannya sendiri secara berkelanjutan.

Kemampuan sebesar itu tidak mungkin dibangun hanya melalui program pemerintah lima tahunan. Ia membutuhkan pembangunan manusia selama puluhan tahun.

Dan pembangunan manusia dimulai dari pendidikan.

Menanam Seharusnya Menjadi Laboratorium Kehidupan

Bayangkan apabila setiap anak Indonesia sejak SD memiliki pengalaman menanam.

Bukan sekadar membaca buku tentang tumbuhan.

Setiap sekolah memiliki kebun pendidikan. Anak-anak diberikan sebidang kecil tanah atau media tanam. Mereka belajar mengenali tanah, membuat kompos, menyemai benih, menghitung kebutuhan air, mengukur pertumbuhan tanaman, merawatnya hingga panen.

Dari sebuah kebun sekolah, sebenarnya banyak mata pelajaran dapat dipelajari sekaligus.

Matematika digunakan untuk menghitung luas lahan, jarak tanam, jumlah bibit, biaya produksi, dan hasil panen.

Biologi digunakan untuk memahami pertumbuhan tanaman, unsur hara, hama, dan ekosistem.

Kimia digunakan untuk memahami pH tanah, pupuk, dan unsur yang dibutuhkan tanaman.

Ekonomi digunakan untuk menghitung modal, harga pokok, keuntungan, dan pemasaran.

Teknologi dapat digunakan untuk mengenalkan irigasi otomatis, sensor kelembapan, hidroponik, pengolahan hasil, hingga pemasaran digital.

Bahasa Indonesia digunakan untuk menuliskan laporan dan menjelaskan hasil percobaan.

Pada akhirnya, kebun sekolah bukan sekadar tempat menanam. Ia dapat menjadi laboratorium kehidupan yang mengajarkan anak tentang kerja keras, ketekunan, tanggung jawab, keberlanjutan, sekaligus nilai ekonomi dari pangan yang mereka konsumsi setiap hari.

Jika sejak dini anak-anak Indonesia dibiasakan memahami dari mana makanan berasal dan bagaimana cara menghasilkannya, kita sedang membangun fondasi kedaulatan pangan dari sumber yang paling penting: manusia. Kedaulatan pangan tidak hanya dimulai dari sawah, ladang, atau kebijakan pemerintah, tetapi juga dari ruang-ruang kelas tempat generasi masa depan dibentuk. Pendidikan yang mengajarkan anak untuk mengetahui sekaligus melakukan adalah investasi jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi bangsa yang kaya akan sumber daya, tetapi juga bangsa yang mampu mengelola dan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.