Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Dari Hormuz ke Jakarta: Membaca Perang AS–Iran dan Implikasinya bagi Indonesia

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Oleh: Dr. Sukamta
Wakil Ketua Komisi I DPR RI

Ketika rudal saling meluncur di Timur Tengah, banyak orang Indonesia menganggapnya sebagai peristiwa yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dipandang sebagai konflik regional yang hanya relevan bagi kawasan Timur Tengah. Padahal, dalam dunia yang saling terhubung seperti saat ini, jarak geografis tidak lagi menentukan besarnya dampak sebuah konflik.

Bagi Indonesia, ancaman terbesar dari perang AS–Iran bukanlah kemungkinan serangan militer langsung. Ancaman yang jauh lebih nyata adalah guncangan terhadap energi, pangan, keuangan, dan rantai pasok global yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, perang ini perlu dibaca bukan hanya sebagai konflik keamanan, tetapi sebagai peristiwa geopolitik yang membuka kerentanan struktural Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia.

Perang yang Lebih Besar dari Iran

Jika dilihat sekilas, konflik ini tampak sebagai perang antara Israel dan Iran yang didukung Amerika Serikat. Namun pada tingkat strategis, yang dipertaruhkan jauh lebih besar daripada sekadar program nuklir Iran atau keamanan Israel.

Perang ini berlangsung di tengah transisi kekuatan global yang semakin jelas. Selama lebih dari tiga dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat menikmati posisi sebagai kekuatan dominan dunia. Kini posisi tersebut menghadapi tantangan dari kebangkitan China, kebangkitan kembali Rusia sebagai pemain geopolitik, serta semakin kuatnya negara-negara menengah yang tidak lagi ingin sepenuhnya berada di bawah satu blok kekuatan.

Dalam konteks tersebut, Iran bukan sekadar negara Timur Tengah. Iran merupakan simpul penting dalam jaringan energi Eurasia, bagian dari koridor perdagangan yang menghubungkan Asia dengan Eropa, sekaligus mitra strategis bagi China dan Rusia dalam upaya membangun tatanan dunia yang lebih multipolar.

Karena itu, konflik AS–Iran tidak dapat dipahami hanya sebagai perang regional. Ia merupakan bagian dari persaingan yang lebih luas mengenai siapa yang akan menentukan arsitektur kekuasaan global pada abad ke-21.

Energi Sebagai Pusat Gravitasi Konflik

Jika ada satu kata yang paling tepat untuk menjelaskan konflik ini, maka kata itu adalah energi.

Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan negara-negara Teluk merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk melewati jalur sempit tersebut sebelum menuju pasar global.

Ketika konflik meningkat dan muncul ancaman terhadap keamanan pelayaran di Hormuz, pasar energi dunia langsung bereaksi. Bahkan tanpa penutupan total sekalipun, risiko gangguan sudah cukup untuk mendorong kenaikan harga minyak, biaya asuransi kapal, dan ongkos logistik internasional.

Di sinilah kita melihat perubahan penting dalam geopolitik modern. Jika pada abad ke-20 banyak konflik dipicu oleh perebutan wilayah, maka pada abad ke-21 yang diperebutkan adalah kendali atas jaringan energi, teknologi, data, dan rantai pasok global.

Perang ini menunjukkan bahwa energi masih menjadi pusat gravitasi geopolitik dunia. Semua negara, baik maju maupun berkembang, tetap bergantung pada stabilitas pasokan energi. Ketika pasokan terganggu, efeknya menjalar ke seluruh sektor ekonomi.

Dari Harga Minyak ke Harga Beras

Banyak orang mengira kenaikan harga minyak hanya berdampak pada harga BBM. Padahal dampaknya jauh lebih luas.

Energi merupakan input dasar bagi hampir seluruh aktivitas ekonomi. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya transportasi, distribusi barang, produksi industri, hingga harga pupuk. Ketika pupuk menjadi lebih mahal, biaya produksi pertanian ikut meningkat. Pada akhirnya, harga pangan juga terdorong naik.

Karena itu terdapat rantai dampak yang sering tidak terlihat:

Konflik geopolitik → gangguan energi → kenaikan harga minyak → kenaikan biaya logistik dan pupuk → kenaikan harga pangan → tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Inilah yang membuat perang di Timur Tengah dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di Indonesia, bahkan tanpa satu pun peluru jatuh di wilayah Indonesia.

Kerentanan Indonesia

Perang AS–Iran menjadi cermin yang memperlihatkan kelemahan struktural Indonesia.

Pertama, Indonesia masih merupakan importir netto minyak. Ketika harga energi global naik, tekanan terhadap perekonomian nasional hampir tidak terhindarkan.

Kedua, Indonesia masih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Dalam situasi krisis global, investor cenderung mencari aset yang dianggap aman, terutama dolar Amerika Serikat. Akibatnya dolar menguat sementara mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Ketiga, struktur ekonomi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Guncangan pada energi, logistik, dan perdagangan internasional dapat dengan cepat merambat ke dalam negeri.

Kerentanan tersebut menciptakan lingkaran yang berbahaya. Harga energi yang meningkat dapat mendorong inflasi. Inflasi menekan daya beli masyarakat. Daya beli yang melemah mengurangi aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama pemerintah menghadapi tekanan fiskal karena meningkatnya kebutuhan subsidi dan perlindungan sosial.

Dengan kata lain, ancaman yang muncul bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.

Geoeconomic Warfare: Bentuk Perang Baru

Salah satu pelajaran terbesar dari konflik ini adalah bahwa perang modern semakin banyak berlangsung di luar medan tempur konvensional.

Kekuatan sebuah negara saat ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah tank, kapal perang, atau pesawat tempur. Kekuatan juga ditentukan oleh kemampuan mengendalikan energi, teknologi, sistem pembayaran, data, dan rantai pasok.

Inilah yang sering disebut sebagai geoeconomic warfare, yaitu penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat kompetisi geopolitik.

Dalam dunia seperti ini, ketergantungan dapat menjadi sumber kerentanan. Negara yang terlalu bergantung pada energi impor, teknologi asing, atau rantai pasok global akan lebih mudah terdampak oleh konflik yang terjadi di luar wilayahnya.

Bagi Indonesia, perubahan ini menuntut cara berpikir baru. Ketahanan nasional tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan mempertahankan wilayah dari serangan militer. Ketahanan nasional harus mencakup kemampuan menghadapi guncangan ekonomi, energi, pangan, dan teknologi.

Agenda Strategis Indonesia

Perang AS–Iran memberikan pelajaran penting bahwa keamanan nasional dan pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan.

Ketahanan energi harus menjadi prioritas nasional melalui diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, dan percepatan pengembangan energi domestik.

Ketahanan pangan harus dipandang sebagai bagian dari strategi keamanan nasional karena gangguan energi dapat dengan cepat memengaruhi sistem pangan.

Kemandirian teknologi perlu diperkuat agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen dalam persaingan global yang semakin berbasis teknologi.

Industrialisasi dan hilirisasi harus terus didorong agar Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai global, terutama di sektor mineral strategis yang akan semakin penting pada era transisi energi dan ekonomi digital.

Di bidang pertahanan, Indonesia juga perlu memperluas konsep keamanan nasional dengan memasukkan aspek siber, kecerdasan buatan, perlindungan infrastruktur kritis, dan keamanan rantai pasok.

Menjadi Pemain, Bukan Penonton

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari perang AS–Iran bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah di Timur Tengah. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa dunia sedang memasuki era baru yang ditandai oleh persaingan geopolitik yang semakin kompleks dan saling terhubung.

Dalam dunia seperti ini, negara yang hanya bergantung pada stabilitas global akan semakin rentan. Sebaliknya, negara yang mampu membangun ketahanan energi, ketahanan pangan, kapasitas teknologi, dan kekuatan industrinya sendiri akan memiliki daya tahan yang jauh lebih besar terhadap guncangan eksternal.

Karena itu, perang AS–Iran seharusnya tidak hanya dibaca sebagai berita luar negeri. Ia adalah pengingat bahwa keamanan Indonesia pada abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di perbatasan negara, tetapi juga oleh apa yang terjadi di jalur energi global, pusat keuangan dunia, dan jaringan rantai pasok internasional.

Dari Hormuz hingga Jakarta, benang merahnya jelas: dunia yang semakin tidak pasti menuntut Indonesia untuk membangun otonomi strategis yang lebih kuat. Tujuannya bukan sekadar bertahan dari krisis, tetapi memastikan bahwa Indonesia mampu menjadi pemain yang ikut membentuk masa depan, bukan sekadar penonton yang menanggung akibat dari keputusan negara lain.