Jakarta (20/05) — Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Mahfudz Abdurrahman, menyoroti pentingnya penguatan pertahanan siber nasional di tengah dinamika ancaman global dan perkembangan pola peperangan modern. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Kerja bersama Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan para Kepala Staf TNI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/05).
Dalam penyampaiannya, Mahfudz menegaskan bahwa modernisasi militer merupakan kebutuhan strategis untuk menghadapi ancaman eksternal yang terus berkembang.
“Dalam konteks ketahanan nasional, penguatan dan modernisasi militer sesuatu yang memang sangat penting untuk ditingkatkan dalam rangka mengantisipasi ancaman dari luar yang dinamikanya sangat dinamis,” ujar Mahfudz.
Ia menilai pola peperangan saat ini telah berubah jauh dibanding perang konvensional, dengan peran matra laut dan udara yang semakin dominan dalam konflik modern.
“Peta dan pola peperangan modern tentu berbeda dengan perang konvensional. Hari ini dan ke depan mungkin peran dan fungsi angkatan laut dan udara lebih menonjol dalam peperangan modern seperti yang kita saksikan antara Iran dengan Israel atau Iran dengan Amerika,” katanya.
Namun demikian, Mahfudz menekankan bahwa ancaman paling signifikan ke depan justru berada di domain siber. Karena itu, ia mempertanyakan sejauh mana kesiapan pertahanan siber Indonesia dalam menghadapi potensi konflik digital.
“Yang lebih signifikan adalah cyber. Pertanyaannya, seberapa siap pertahanan cyber kita jika konflik meluas ke cyber domain? Apakah kita sudah punya kesiapan defensif yang memadai untuk melindungi infrastruktur dan sistem pertahanan kita?” tegasnya.
Mahfudz juga menyoroti perlunya kejelasan mengenai struktur komando dan kesiapan operasional pertahanan siber nasional.
“Siapa pimpinan komandonya dan seberapa kesiapannya selama 24 jam, saya kira itu perlu,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mahfudz turut menyinggung wacana pembentukan angkatan khusus siber sebagaimana pernah disampaikan oleh Gubernur Lemhannas dalam sebuah diskusi publik.
“Jika dirasa perlu, maka angkatan ini perlu ditambah satu, yaitu angkatan cyber yang memang khusus fokus di wilayah ini. Saya kira ini komentar yang cukup menarik,” katanya.
Selain soal pertahanan, Mahfudz juga mengapresiasi kedekatan TNI dengan masyarakat yang dinilainya menjadi modal penting dalam menjaga kohesi sosial nasional.
“TNI sampai hari ini sangat dicintai oleh rakyat dan rakyat berharap banyak kepada TNI,” ungkapnya.
Ia menilai berbagai program kolaborasi TNI dengan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan budaya perlu terus diperkuat untuk membantu meredam potensi gejolak sosial di tengah dinamika nasional.
“Kalau dulu ada ABRI Masuk Desa, mungkin banyak pola-pola lain yang bisa mulai dirajut. Hal-hal seperti ini punya daya redam untuk mengatasi gejolak yang terjadi di tengah masyarakat,” pungkas Mahfudz.