Jakarta (28/10) — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 sebagai momentum untuk memperkuat karakter dan meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Menurutnya, momentum Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Kurniasih menilai semangat Sumpah Pemuda yang lahir pada 1928 tidak cukup hanya dikenang sebagai peristiwa bersejarah. Nilai persatuan, keberanian, kepeloporan, dan tanggung jawab sosial yang diwariskan para pemuda perlu terus diaktualisasikan untuk menjawab tantangan generasi muda saat ini sekaligus mempersiapkan masa depan Indonesia.
“Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah yang menunjukkan betapa besarnya kekuatan anak muda ketika memiliki cita-cita dan semangat persatuan. Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, semangat itu harus diterjemahkan menjadi karakter yang kuat, kemampuan menghadapi perubahan, serta keberanian memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia. Inilah modal penting untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujar Kurniasih dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Kurniasih mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 64 juta pemuda atau 23,8 persen dari total populasi. Jumlah tersebut merupakan potensi besar untuk menggerakkan berbagai perubahan positif. Namun, besarnya populasi pemuda belum secara otomatis mencerminkan kualitas sumber daya manusia yang merata.
Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2024 menunjukkan capaian sebesar 62,88, dengan kesenjangan antarprovinsi mencapai 21,5 poin. Sementara itu, data 2025 menunjukkan sekitar 19,44 persen pemuda berada dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training), yakni tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
“Angka-angka ini perlu menjadi perhatian bersama. Kita memiliki jumlah pemuda yang sangat besar, tetapi masih menghadapi kesenjangan kualitas dan akses pengembangan diri. Masih banyak anak muda yang belum memperoleh kesempatan optimal untuk melanjutkan pendidikan, meningkatkan keterampilan, atau memasuki dunia kerja. Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, potensi besar ini harus benar-benar diikuti dengan perluasan kesempatan,” jelasnya.
Kurniasih menilai momentum menuju satu abad Sumpah Pemuda perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi karakter generasi muda. Tiga karakter utama, yakni patriotik, gigih, dan berempati, dinilainya relevan untuk membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi dan daya saing, tetapi juga tanggung jawab sosial di tengah perubahan teknologi dan tantangan global.
Karakter patriotik perlu dimaknai lebih luas daripada sekadar kecintaan terhadap simbol-simbol kebangsaan. Patriotisme harus tercermin melalui kepedulian terhadap persoalan masyarakat, semangat berkarya, integritas, serta kesediaan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, karakter gigih berkaitan dengan kemampuan menghadapi kesulitan, ketangguhan mental, keberanian mencoba hal baru, serta kemauan untuk terus belajar. Adapun karakter berempati menjadi landasan penting untuk membangun kepedulian sosial, menghargai perbedaan, dan memperkuat solidaritas di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam.
“Generasi muda membutuhkan karakter yang utuh. Patriotik agar memiliki kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsanya, gigih agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, dan berempati agar kemajuan yang diraih tetap disertai kepedulian terhadap sesama. Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dipersiapkan dengan penguasaan teknologi dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat dan kepedulian sosial,” ungkapnya.
Sebagai legislator yang membidangi pemuda, olahraga, pendidikan, kebudayaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, Kurniasih menekankan bahwa pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi atau kegiatan seremonial. Karakter justru lebih efektif dibangun melalui pengalaman langsung, pembiasaan, keteladanan, dan keterlibatan pemuda dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Karena itu, Kurniasih menyambut positif arah pengembangan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia 2026–2045 yang mengintegrasikan penguatan karakter dengan berbagai kegiatan kepemudaan, seperti pelatihan kepemimpinan, debat dan pidato, program magang, serta pertukaran pemuda.
Menurutnya, pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek (experience-based and project-based learning) dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengembangkan karakter sekaligus kompetensi generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, pemuda tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga kesempatan mengasah kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan masalah, dan membangun kepemimpinan.
Kurniasih menambahkan bahwa perjalanan menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 dan Indonesia Emas 2045 harus menjadi rangkaian agenda yang saling terhubung. Generasi muda yang hari ini memperoleh kesempatan untuk berkembang akan menjadi bagian penting dari kelompok usia produktif yang menentukan kualitas pembangunan Indonesia pada masa mendatang.