Jakarta (16/09) — Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Syahrul Aidi Maazat mendorong Pemerintah Provinsi Riau memperkuat kerja sama dengan Jepang, terutama di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan investasi.
Dorongan tersebut disampaikan Syahrul Aidi dalam pertemuan BKSAP DPR RI dengan jajaran Pemprov Riau dan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Selasa (15/9/2026). Pertemuan turut dihadiri Direktur Politik Kedutaan Besar Jepang Tanaka Motoyasu, Sekda Riau Syahrial Abdi, serta perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan RI.
Syahrul Aidi menilai kerja sama dengan Jepang perlu diarahkan pada upaya menyiapkan generasi muda Riau agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja Jepang. Salah satu yang didorong adalah penguatan pembelajaran Bahasa Jepang bagi siswa SMA/SMK sejak bangku sekolah.
Menurutnya, pembekalan Bahasa Jepang sejak dini akan membantu lulusan Riau lebih siap mengikuti program magang maupun memasuki dunia kerja di Jepang.
Selain pendidikan, Syahrul Aidi mengusulkan penjajakan kerja sama antara Pemprov Riau dan pihak Jepang untuk program magang dan penempatan tenaga kerja asal Riau.
Ia juga membuka peluang penggunaan skema Business to Business (B2B) dengan melibatkan perusahaan atau lembaga swasta yang memiliki kompetensi apabila mekanisme Government to Government (G2G) belum dapat dilakukan secara langsung.
Dari pihak Jepang, Tanaka Motoyasu menyampaikan bahwa Jepang saat ini membutuhkan tenaga kerja asing dalam jumlah besar. Kebutuhan tenaga kerja Indonesia di Jepang disebut mencapai sekitar 260 ribu orang per tahun, sehingga terdapat peluang yang besar bagi tenaga kerja Indonesia, termasuk dari Riau.
Tanaka juga menyebut Provinsi Lampung sebagai salah satu contoh daerah yang aktif mendorong pembelajaran Bahasa Jepang dan berhasil meningkatkan pengiriman tenaga kerja ke Jepang.
Namun, Riau masih menghadapi keterbatasan jumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Karena itu, diperlukan penguatan dan penambahan LPK agar calon tenaga kerja Riau dapat memperoleh pelatihan tanpa harus keluar daerah.
Di sisi lain, Syahrul Aidi juga menawarkan peluang investasi Jepang di sektor hilirisasi kelapa. Riau dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra kelapa di Indonesia. Kerja sama dapat diarahkan pada pemanfaatan teknologi Jepang untuk mengolah kelapa, termasuk sabut dan tempurung, menjadi produk bernilai tambah.
Syahrul Aidi berharap pertemuan tersebut menghasilkan tindak lanjut konkret, baik dalam penguatan pembelajaran Bahasa Jepang, penyiapan tenaga kerja Riau untuk pasar Jepang, maupun pembukaan peluang investasi perusahaan Jepang di Riau.
“Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada pertemuan, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Riau,” terang Syahrul Aidi.
Sementara itu, Pemprov Riau menyampaikan telah mulai menyiapkan program pembelajaran Bahasa Jepang melalui kerja sama dengan Japan Foundation. Program tersebut dirancang bertahap mulai dari kelas X SMA hingga kelas XII, sekaligus untuk memetakan siswa yang berpotensi mengikuti pendidikan, magang, maupun bekerja di Jepang.