Jakarta (23/08) — Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (22/8/2026) malam, menyisakan duka mendalam. Ratusan bangunan di kawasan permukiman adat Suku Sasak dilaporkan terdampak, sementara ratusan warga harus menghadapi kehilangan rumah dan tempat tinggal.
Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PKS, Saadiah Uluputty, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah tersebut. Menurutnya, penanganan kebakaran tidak boleh berhenti pada pemulihan pascabencana, tetapi juga harus memastikan penyebab kebakaran diketahui secara terang dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya meminta agar penyebab kebakaran Desa Adat Sade diusut tuntas. Jangan sampai setelah api padam, pertanyaan masyarakat justru dibiarkan tanpa jawaban.”
Saadiah menilai Sade bukan sekadar kumpulan rumah warga. Kawasan tersebut merupakan bagian penting dari identitas, sejarah, dan warisan budaya masyarakat Sasak.
“Yang terbakar bukan hanya bangunan. Ada rumah, ada kenangan, ada sejarah, ada warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, negara harus hadir,” tegasnya.
Saat ini aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan melibatkan tim Inafis untuk mengumpulkan barang bukti, mendokumentasikan lokasi, serta meminta keterangan saksi dan warga terdampak. Penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Saadiah meminta proses penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, objektif, dan berbasis bukti, termasuk dengan melibatkan pemeriksaan laboratorium forensik bila diperlukan.
“Kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan penyebabnya. Apakah faktor kelistrikan, kelalaian, atau faktor lainnya, semuanya harus dibuktikan melalui penyelidikan yang profesional. Masyarakat berhak mengetahui kebenarannya,” ujar Saadiah.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali secara fisik. Pemulihan harus memperhatikan keberlangsungan kehidupan masyarakat serta kelestarian nilai adat dan budaya Sade.
“Kita ingin Sade bangkit. Tetapi ketika dibangun kembali, jangan sampai identitas dan nilai adatnya hilang. Pemulihan harus menghadirkan keselamatan, kepastian bagi warga, sekaligus menjaga warisan budaya,” katanya.
Saadiah mendorong pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar warga terdampak, termasuk tempat tinggal sementara, kesehatan, pendidikan, serta perlindungan bagi kelompok rentan.
Menurutnya, tragedi Sade harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem pencegahan dan mitigasi kebakaran di kawasan permukiman adat dan destinasi wisata budaya.
“Kita berduka untuk Sade. Tetapi dari duka ini harus lahir evaluasi dan pembenahan. Jangan sampai kejadian serupa terulang di kawasan adat lainnya,” tutur Saadiah.
Ia menegaskan, masyarakat membutuhkan dua hal sekaligus: pertolongan untuk bangkit dan kepastian atas kebenaran.
“Usut tuntas penyebabnya. Lindungi masyarakatnya. Selamatkan warisan budayanya. Jangan biarkan kebenaran ikut terbakar bersama rumah-rumah Sade,” pungkasnya.