Jakarta (05/08) — Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Adang Daradjatun, berbagi pengalaman tentang kepemimpinan, integritas, serta perjalanan karier kepada sepuluh peserta magang Humas Fraksi PKS DPR RI (InternshiPKS) Dalam dialog yang berlangsung santai, peserta diajak mendiskusikan berbagai nilai yang menurutnya menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja maupun kehidupan.
Dialog bersama Anggota Komisi III DPR RI tersebut berlangsung dalam suasana yang cair. Alih-alih menyampaikan materi secara formal, mantan Wakil Kepala Kepolisian RI itu memilih membuka ruang diskusi agar peserta dapat menyampaikan pandangan maupun pertanyaan secara langsung.
“Saya nggak ingin menguasai ruang ini. Saya lebih senang mendengar apa yang ingin teman-teman sampaikan,” ujarnya membuka dialog.
Percakapan kemudian mengalir dari kebiasaan sederhana hingga nilai-nilai yang menjadi fondasi seseorang dalam menjalani kehidupan. Di usia 77 tahun, Anggota Komisi III DPR RI itu mengaku masih rutin berolahraga selama dua jam setiap pagi selepas salat Subuh, kebiasaan yang telah dijaganya sejak SMA. Menurutnya, menjaga fisik bukan sekadar soal kesehatan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Dari kebiasaan tersebut, Wakil Ketua MKD DPR RI memperkenalkan tiga prinsip yang berulang kali ditekankan sepanjang dialog, yakni akhlak, intelektual, dan fisik. Menurut legislator PKS tersebut, ketiga aspek itu tidak dapat dipisahkan karena akan selalu menjadi ukuran dalam menilai kualitas seseorang, baik sebagai profesional maupun sebagai pemimpin.
“Yang dinilai itu selalu tiga. Akhlak, intelektual, fisik. Kalau salah satu kacau, ya kacau,” tegasnya.
Pengalaman puluhan tahun berkarier di institusi kepolisian membuat mantan Wakil Kepala Kepolisian RI tersebut memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan. Beliau mengenang seorang rekan yang memiliki kemampuan intelektual tinggi dan akhlak yang baik, tetapi kariernya terhenti karena kondisi fisik yang menurun akibat gaya hidup yang kurang terjaga. Sebaliknya, beberapa anak buah yang dahulu sering ditegurnya karena persoalan kedisiplinan dan ketelitian kini justru menduduki jabatan strategis, termasuk salah satunya yang menjabat sebagai Wakapolri. Dari pengalaman tersebut, Anggota Komisi III DPR RI itu berpesan agar kritik dan teguran tidak dipandang sebagai serangan pribadi, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.
“Jangan dimasukkan ke hati. Anggap saja belajar, karena suatu saat Anda akan bertemu pemimpin yang keras, dan dari situ Anda tahu bagaimana caranya jadi pemimpin yang baik,” pesannya.
Selain membahas kepemimpinan, Wakil Ketua MKD DPR RI juga menekankan pentingnya menjaga integritas. Mantan Wakapolri tersebut mengenang pesan yang diterimanya saat menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), sebuah nasihat yang menurutnya tetap relevan hingga kini.
“Kalau ada yang mau menyogok, balik badan. Lihat istri sedang masak, anak-anak mau berangkat sekolah. Pikirkan, kalau Anda tertangkap, apa akibatnya buat mereka,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan kariernya hingga menjabat sebagai Wakapolri, godaan semacam itu, menurutnya, kerap datang silih berganti. Namun, Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI tersebut memilih tetap berada pada koridor yang diyakininya sebagai batas yang tidak boleh dilanggar demi kepentingan sesaat.
Menjelang akhir dialog, legislator PKS itu mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah soal jabatan atau pangkat. Menurutnya, siapa pun yang diberi tanggung jawab atas orang lain telah memikul amanah sebagai seorang pemimpin.
“Kepala seksi yang cuma punya sepuluh anggota, ya dia pemimpin dari sepuluh orang itu. Tidak harus jadi Kapolda dulu baru disebut pemimpin,” ujarnya.
Sebagai penutup, mantan Wakil Kepala Kepolisian RI tersebut kembali mengingatkan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menghadapi tantangan.
“Pelaut yang hebat adalah pelaut yang selalu berhadapan dengan ombak besar. Kalau cuma di pinggir pantai, nggak pernah ketemu ombak gede, dia nggak akan jadi pemimpin,” pungkasnya.