Jakarta (03/08) — Lahirnya kampus Ocean Institute of Indonesia (OII) menjadi babak baru bagi pendidikan kelautan perikanan nasional. Gabungan dari beberapa politeknik kelautan perikanan ini memberikan rasa optimisme yang tinggi akan lahirnya ahli dan pakar kelautan perikanan berkelas nasional dan bahkan dunia.
Riset serta budaya akademik akan melahirkan berbagai temuan sekaligus perkembangan teknologi bagi kepentingan optimalisasi sektor kelautan perikanan untuk menghadirkan Ekonomi Biru yang menjadi alternatif kebangkitan ekonomi nasional.
“Saya apresiasi dan ucapkan selamat atas lahirnya kampus baru dengan spirit kelautan perikanan berkelas dunia untuk wujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Salah satu syaratnya adalah lahirnya sumber daya unggul yang mampu bersaing di kelas global,” papar Riyono Caping, Anggota Komisi IV DPR RI Dapil VII Jatim.
Sumber daya manusia sektor kelautan saat ini masih jauh dari harapan. Para nelayan rata-rata hampir 80 persen adalah lulusan SD–SMP dan hanya 1 persen saja keluarga nelayan yang memiliki pendidikan tinggi alias sarjana. Potensi kelautan perikanan masih jauh dari kata optimal untuk menyumbang kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.
“Lahirnya OII akan menjadi harapan baru dan tumpuan bagi keluarga nelayan untuk menjadikan putra-putri mereka mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas. Anak-anak nelayan kecil dan tradisional harus mendapatkan porsi yang utama dalam penerimaan mahasiswanya,” tambah Riyono Caping.
Persaingan dunia usaha sektor kelautan perikanan semakin keras, bahkan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Indonesia saat ini belum mampu dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memberikan kontribusi nyata bagi negara. Keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi membuat ZEE Indonesia sering dijadikan medan tempur illegal fishing bagi kapal-kapal asing dengan GT di atas 150 sampai 500.
“Kampus Ocean Institute of Indonesia harus bisa menjawab tantangan sektor budidaya, tangkap, dan teknologi pengolahan industri. Harus menjadi ‘Kampus Nelayan Indonesia’ yang akan bersaing dengan kampus negeri dan level dunia sebagai center of excellence di sektor ilmu kelautan perikanan,” kata Riyono Caping.
Lahirnya kampus ini tidak lepas dari dorongan Komisi IV DPR RI agar melahirkan sumber daya manusia unggulan di bidang kelautan perikanan. Model beasiswa bagi mahasiswa membuat peminat semakin bertambah.
“Beasiswa bagi mahasiswa kampus akan semakin mempercepat transformasi pendidikan yang semakin berkualitas. Anak-anak nelayan akan menjadi nelayan ‘berdasi’ yang pergi ke laut bukan sekadar mencari ikan, tetapi menangkap ikan dengan teknologi yang semakin bagus dan hasilnya melimpah,” tutup Riyono Caping.