Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Peresmian PSEL Legok Nangka, Aher: Momen Menilik Legasi Fondasi Pembangunan Berdampak Infrastruktur Jawa Barat

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Bandung (29/07) — Riuk dinamika pembangunan Jawa Barat hari ini kerap meluncur di atas mulusnya aspal yang dilintasi masyarakat setiap hari. Dari deru kendaraan yang meliuk ringkas menembus kemacetan menuju Garut, Tasik, hingga menyambungkan rute alternatif wisata selatan, terdapat jejak keputusan politik anggaran masa lalu yang melandasinya.

Di balik kemegahan proyek-proyek strategis nasional yang kini dinikmati publik, ada satu periode penting yang kerap bekerja dalam sunyi namun berdampak sistemik, yakni satu dekade kepemimpinan Gubernur Ahmad Heryawan (Aher) periode 2008–2018.

Membaca ulang legasi Aher bukan sekadar perkara nostalgia politik. Bagi publik Jawa Barat, hal ini adalah refleksi kritis tentang bagaimana fondasi infrastruktur masa lalu menjadi penopang utama daya saing daerah hari ini.

Sektor infrastruktur pada era Aher mencatat keberanian menembus titik jenuh kawasan. Masyarakat yang sering melintas menuju Garut memahami melelahkannya jebakan kemacetan di kawasan Kadungora dan Leles. Pada era Aher, skema pembukaan beberapa jalur alternatif lingkar dieksekusi secara agresif untuk memotong bottleneck transportasi dan mengalirkan kembali urat nadi ekonomi warga di kawasan tengah Jawa Barat.

Selain itu, keberhasilan penggenangan Waduk Jatigede di Sumedang yang sempat tertunda puluhan tahun akhirnya direalisasikan pada era Aher. Waduk ini kini menjadi bendungan terbesar kedua di Indonesia untuk mendukung pengairan dan keandalan air baku Jawa Barat.

Cetak biru keberanian infrastruktur Aher juga sangat kentara di wilayah selatan. Lewat proyek Sabuk Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (rute Loji – Puncak Darma – Palangpang), Pemprov Jabar saat itu mengalokasikan ratusan miliar APBD untuk membelah tebing dan menyusuri bibir pantai. Langkah yang mulanya dipandang spekulatif ini terbukti berhasil, sebab tanpa akses jalan tersebut, kawasan Ciletuh tidak akan pernah lolos memenuhi kriteria ketat infrastruktur dasar UNESCO hingga akhirnya ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) pada 2018.

“Apabila lewat jalur ini, sebelah kanan kita bisa menikmati keindahan samudra, dan sebelah kiri hutan perbukitan yang hijau. Itulah Sabuk Geopark Ciletuh,” kenang Aher saat meninjau jalur Loji-Puncak Darma di penghujung 2017 silam.

Di balik fisik bangunan yang megah, terdapat tata kelola birokrasi yang tertata. Pemprov Jabar di era Aher berhasil menembus rekor jumlah lelang pekerjaan fisik melalui akselerasi sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang dianugerahi status National Centre of Excellence oleh LKPP. Ribuan paket pekerjaan fisik bernilai triliunan rupiah digelontorkan secara simultan dan transparan, mulai dari pembangunan ruang kelas baru (RKB) masif, penguatan jalan provinsi, hingga rintisan awal megaproyek TPPAS Legok Nangka dan BIJB Kertajati.

Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI ini juga menegaskan pentingnya investasi pada sumber daya manusia. Selain infrastruktur fisik, Aher merancang program beasiswa untuk 1.000 doktor, bidan, penyuluh pertanian, dan berbagai sektor strategis lainnya untuk memperkuat daya saing daerah.

Proyek-proyek era Aher, baik yang sudah tuntas maupun yang baru diresmikan belakangan ini seperti PSEL Legok Nangka pada Rabu (29/7/2026) bersama Dedi Mulyadi dan Bey Machmudin, membuktikan bahwa kemajuan suatu daerah ditentukan oleh seberapa kokoh pemimpin masa lalu meletakkan batu pertama dan seberapa bijak pemimpin hari ini melanjutkannya secara berkesinambungan.