Jakarta (21/07) — Ketua BAM DPR RI dari Fraksi PKS, Ahmad Heryawan, menilai penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menjadi perhelatan olahraga terbesar di dunia, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang sangat besar sekaligus berfungsi sebagai ruang diplomasi lunak (soft diplomacy) dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan, termasuk dukungan terhadap Palestina.
Hal tersebut disampaikan dalam sesi PKS Legislative Report jelang Rapat Paripurna ke-26 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025/2026 pada Selasa (21/07) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menurutnya, Piala Dunia 2026 memiliki sejumlah keunikan yang belum pernah terjadi pada edisi sebelumnya. Selain jumlah peserta yang meningkat dari 32 menjadi 48 negara dengan total 104 pertandingan, turnamen ini juga untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
“Gelaran World Cup kali ini unik. Peserta bertambah dari 32 menjadi 48 negara sehingga total pertandingan mencapai 104 laga, terbanyak sepanjang sejarah. Selain itu, untuk pertama kalinya Piala Dunia diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko,” ucap Ahmad Heryawan.
Ia menjelaskan, skala penyelenggaraan tersebut akan menghadirkan dampak ekonomi yang luas, mulai dari penjualan tiket, sektor pariwisata, hingga nilai komersial hak siar yang melibatkan ratusan negara di dunia.
“Sebaran denyut ekonominya sangat luar biasa. Dari penjualan tiket, berbagai sektor pendukung, hingga hak siar yang nilainya sangat besar, semuanya memberikan manfaat ekonomi yang tidak sedikit,” ujar Anggota DPR RI Dapil Jawa Barat II tersebut.
Lebih lanjut, Ahmad Heryawan menilai Piala Dunia juga telah berkembang menjadi media diplomasi yang efektif. Menurutnya, sejumlah negara memanfaatkan momentum tersebut untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina melalui berbagai bentuk dukungan.
“Piala Dunia juga menjadi sarana soft diplomacy. Kita melihat banyak negara di Eropa seperti Spanyol, Portugal, Inggris, Prancis, hingga Norwegia menunjukkan keberpihakan kepada Palestina. Bahkan hasil penjualan tiket pada salah satu laga Norwegia disalurkan untuk kepentingan masyarakat Palestina. Ini merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan yang patut diapresiasi,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat dunia dapat menikmati Piala Dunia 2026 tidak hanya sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai momentum memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas global, serta kepedulian terhadap bangsa-bangsa yang masih memperjuangkan hak dan kemerdekaannya, termasuk Palestina.