Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Ateng Sutisna: Ketahanan Keluarga Adalah Fondasi Indonesia Emas 2045

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (07/07) — Anggota DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX (Sumedang, Majalengka, dan Subang), Ateng Sutisna, mengingatkan bahwa peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa karena menjadi tempat pertama lahirnya karakter, nilai, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ateng menilai, berbagai agenda besar pembangunan nasional, mulai dari hilirisasi industri, transisi energi, bonus demografi, hingga cita-cita Indonesia Emas 2045, pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dibentuk di lingkungan keluarga.

“Kita boleh membangun infrastruktur, mengejar investasi, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi. Namun semua itu tidak akan memberikan hasil maksimal jika fondasi keluarganya rapuh. Keluarga adalah sekolah pertama yang membentuk karakter, integritas, dan tanggung jawab setiap anak bangsa,” ujar Ateng.

Ia menjelaskan, amanat memperkuat keluarga sesungguhnya telah menjadi bagian dari konstitusi dan berbagai regulasi nasional. Pembukaan UUD 1945 menegaskan tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum, sementara Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menempatkan pembangunan keluarga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional.

Menurut Ateng, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seorang anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan sebelum mengenal sekolah maupun masyarakat.

“Sebelum anak mengenal negara, ia mengenal keluarganya. Sebelum belajar hukum, ia belajar membedakan benar dan salah dari orang tuanya. Bahkan sebelum memahami Pancasila di sekolah, nilai-nilai Pancasila seharusnya sudah dipraktikkan dalam kehidupan keluarga,” katanya.

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi keluarga Indonesia saat ini semakin kompleks. Selain tingginya angka perceraian, keluarga juga menghadapi tekanan ekonomi, perubahan pola interaksi akibat perkembangan teknologi digital, meningkatnya persoalan kesehatan mental, hingga berkurangnya kualitas komunikasi antara orang tua dan anak.

Menurutnya, kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru apabila tidak diimbangi dengan penguatan hubungan dalam keluarga.

“Hari ini banyak keluarga tinggal dalam satu rumah, tetapi masing-masing sibuk dengan gawai. Kedekatan secara fisik belum tentu diikuti kedekatan emosional. Padahal komunikasi, perhatian, dan keteladanan orang tua adalah fondasi utama tumbuhnya generasi yang sehat secara mental dan berkarakter,” ungkap Ateng.

Ateng menilai, ketahanan keluarga tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan privat semata. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa stabilitas keluarga memiliki hubungan erat dengan kualitas pendidikan, kesehatan mental, produktivitas ekonomi, hingga tingkat kepercayaan sosial di masyarakat.

Karena itu, ia mendorong penguatan ketahanan keluarga menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Menurutnya, negara perlu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada keluarga, dunia pendidikan harus memperkuat pendidikan karakter, tokoh agama terus membangun nilai moral dan spiritual, dunia usaha menciptakan lingkungan kerja yang ramah keluarga, media menghadirkan ruang informasi yang sehat, dan masyarakat bersama-sama membangun budaya yang mendukung kehidupan keluarga yang harmonis.

“Membangun keluarga yang kuat bukan hanya tugas seorang ayah atau ibu. Ini adalah kerja bersama seluruh bangsa. Ketika keluarga kuat, kita sedang membangun modal sosial yang akan melahirkan masyarakat yang tangguh dan negara yang kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman,” jelasnya.

Ateng menambahkan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak otomatis menjadi keuntungan apabila tidak diiringi dengan pembangunan kualitas manusia sejak dari keluarga. Menurutnya, Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mampu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, kepedulian, kerja keras, serta semangat gotong royong.

“Investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya membangun jalan, pelabuhan, atau kawasan industri, tetapi membangun manusia. Dan manusia yang berkualitas selalu lahir dari keluarga yang kuat. Karena itu, memperkuat ketahanan keluarga sesungguhnya adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia,” pungkas Ateng.