Majalengka (07/07) — Anggota DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX, Ateng Sutisna, mendorong Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menjadikan perkembangan olahraga grasstrack dan motocross sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah berbasis sport tourism dan ekonomi kreatif.
Ia menilai, Majalengka telah berevolusi menjadi salah satu episentrum olahraga otomotif roda dua nasional. Bahkan, Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jawa Barat mengklasifikasikan Majalengka sebagai salah satu “lumbung pembalap” karena konsisten melahirkan atlet-atlet berbakat di cabang grasstrack dan motocross.
“Pemerintah daerah jangan melihat sirkuit hanya sebagai tempat balapan motor. Di balik setiap event terdapat perputaran ekonomi yang menggerakkan UMKM, sektor jasa, dan ekonomi kreatif masyarakat. Inilah yang harus kita bangun secara serius,” ujar Ateng.
Ateng menjelaskan bahwa perkembangan grasstrack dan motocross di Majalengka tidak terjadi secara kebetulan. Karakter wilayah yang didominasi perbukitan, lahan pertanian yang dimanfaatkan sebagai lintasan pascapanen, tingginya minat masyarakat terhadap dunia otomotif, serta dukungan pemerintah dan komunitas telah membentuk ekosistem pembinaan pembalap selama bertahun-tahun.
Dari sirkuit-sirkuit sederhana tersebut, kemudian lahir arena kejuaraan bergengsi seperti Sumberkulon Jatitujuh, Batara Jaya Argapura, Cakra-13 Lemahsugih, Cibatu, Gagarajy, hingga BMJP Babakan Kertajati yang kini menjadi tulang punggung pembinaan atlet otomotif nasional.
Besarnya animo masyarakat terhadap olahraga ini linier dengan besarnya potensi ekonomi. Salah satu kejuaraan di Sirkuit Batara Jaya pada 2017 silam, misalnya, terbukti mampu menarik sekitar 10 ribu penonton dan ratusan pembalap dari berbagai daerah.
Ateng memperkirakan, satu event berskala besar dengan sekitar 10 ribu pengunjung berpotensi menghasilkan transaksi ekonomi langsung antara Rp3 miIiar hingga Rp5 miIiar. Jika Majalengka mampu menyelenggarakan tiga hingga lima event besar setiap tahun secara konsisten, dampak ekonominya dapat mencapai puluhan miIiar rupiah melalui efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah.
“Uang yang dibelanjakan penonton tidak berhenti di loket sirkuit. Uang itu mengalir ke warung, hotel, homestay, bengkel, SPBU, toko oleh-oleh, angkutan lokal, hingga berbagai usaha masyarakat. Karena itu, kalender event yang konsisten dapat menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Selain melahirkan pembalap berprestasi, Ateng juga menyoroti bahwa perkembangan olahraga otomotif di Majalengka telah mendorong inovasi di bidang pendidikan vokasi. Ia mengapresiasi langkah SMK KORPRI Majalengka yang berani mengintegrasikan kegiatan road race dan grasstrack dengan kompetensi Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM). Terobosan ini membuat siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengembangkan kemampuan riset, mekanik, dan teknologi otomotif secara langsung.
Ke depan, Ateng mengusulkan pengembangan konsep “Majalengka Motorsport Tourism”. Konsep ini akan mengintegrasikan penyelenggaraan kejuaraan grasstrack dan motocross dengan promosi desa wisata, agrowisata, kuliner lokal, produk UMKM, seni budaya, serta ekonomi kreatif.
“Kita jangan sampai membiarkan penonton hanya datang dua jam untuk melihat balapan lalu pulang. Kita harus membuat mereka tinggal satu atau dua malam, menikmati kuliner Majalengka, mengunjungi desa wisata, membeli produk UMKM, dan mengenal seni budaya lokal. Di situlah nilai tambah ekonominya,” urainya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ekosistem olahraga otomotif membuka peluang kerja yang luas bagi generasi muda. Bukan hanya sebagai pembalap, tetapi juga tenaga profesional seperti mekanik, teknisi, marshal, tenaga medis, promotor event, jurnalis olahraga, fotografer, videografer, desainer grafis, hingga praktisi pemasaran digital.
Oleh karena itu, Ateng meminta pemerintah daerah menyiapkan kerangka kebijakan agar manfaat ekonomi dari setiap kejuaraan benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal. Salah satunya dengan memberikan ruang utama bagi pelaku UMKM desa dalam penyediaan makanan, minuman, suvenir, transportation, dan penginapan.
Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, IMI, komunitas otomotif, dunia usaha, BUMN/BUMD, perbankan, perguruan tinggi, dan pelaku ekonomi kreatif untuk membangun industri event otomotif yang profesional, aman, dan berkelanjutan.
“Sekarang saatnya Majalengka naik kelas. Bukan hanya dikenal sebagai lumbung pembalap, tetapi juga sebagai destinasi sport tourism otomotif unggulan yang mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan UMKM, memperkuat ekonomi lokal, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Ateng.