Ponorogo (30/06) — Kondisi harga telur di tingkat peternak ayam sedang turun drastis. Penurunan harga telur mulai terjadi sejak April 2026 atau pasca-Idulfitri. Turunnya harga telur dipicu oleh over supply karena saat ini banyak pemain baru dalam industri ayam petelur.
“Peternak ayam petelur sedang mencari jalan dan meminta negara hadir untuk menyelesaikan permasalahan harga telur yang sedang turun di kandang mereka,” papar Riyono Caping.
Pertemuan Riyono bersama para peternak yang tergabung dalam koperasi sekunder dihadiri peternak dari Blitar, Magetan, Ponorogo, Jombang, dan Mojokerto. Pertemuan berlangsung dengan dialog konstruktif untuk mencari solusi bersama antara wakil rakyat dan para peternak.
“Saat ini harga telur di kandang dihargai Rp17.000–Rp21.000 per kilogram, dengan biaya produksi Rp21.000–Rp22.000 per kilogram. Artinya, peternak mengalami kerugian besar jika tidak segera mendapatkan solusi dari negara secara langsung,” papar Riyono Caping, anggota DPR RI Fraksi PKS Daerah Pemilihan Jawa Timur VII.
Peternak menyampaikan bahwa saat ini harga telur terus jatuh dan mereka telah berupaya mencari solusi ke berbagai pihak, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga bertemu dengan bupati, wali kota, dan DPRD Provinsi Jawa Timur. Selain harga telur yang turun, harga pakan justru terus naik. Bahkan, dalam satu bulan dapat mengalami kenaikan hingga dua kali akibat bahan baku impor berupa bungkil kedelai.
“Usulan jangka pendek berupa memasukkan telur sebagai komponen bantuan pangan pemerintah, seperti pada masa pasca-Covid-19, dengan alokasi 10 butir bagi setiap penerima manfaat bantuan pangan,” papar Riyono Caping.
Secara kalkulasi, produksi telur nasional saat ini memang mengalami over supply. Berdasarkan catatan BPS tahun 2025, produksi nasional mencapai 6,25 juta ton atau sekitar 104,17 miliar butir telur. Sementara itu, tingkat konsumsi telur masyarakat Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia masih berada di bawah konsumsi satu butir telur per orang per hari, sedangkan Malaysia telah melampaui satu butir per orang per hari.
“Peternak meminta agar negara hadir memberikan solusi melalui penyerapan hasil produksi dan menciptakan pasar baru, seperti penyerapan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun melalui BUMN dalam skema bantuan pangan,” tutup Riyono Caping, anggota Komisi IV DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII.