Jakarta (09/08) — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Nevi Zuairina, menyampaikan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo yang meluas hingga wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Berdasarkan laporan penanganan di lapangan, kebakaran yang bermula di kawasan Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kemudian meluas ke sejumlah kawasan di Probolinggo dan Malang.
Hingga 7 Agustus 2026, estimasi luas area terdampak telah mencapai sekitar 120 hektare. Tim gabungan dari BB TNBTS, BPBD Jawa Timur, TNI, Polri, relawan hingga BNPB telah melakukan berbagai langkah pemadaman dan menyiapkan dukungan water bombing untuk titik-titik yang sulit dijangkau.
Nevi mengapresiasi kerja bersama tersebut dan menilai pemerintah perlu mendapatkan dukungan penuh agar proses pemadaman dapat dilakukan secara cepat dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas serta masyarakat.
“Dalam situasi seperti ini, yang utama adalah memastikan api segera dikendalikan dan tidak meluas. Kami mendukung pemerintah, petugas TNBTS, BNPB, BPBD, TNI, Polri, relawan serta seluruh unsur yang bekerja di lapangan. Keselamatan petugas dan masyarakat harus menjadi prioritas,” ujar Nevi.
Politisi PKS ini juga mendorong Kementerian Kehutanan bersama pengelola kawasan untuk memperkuat langkah pencegahan melalui pemanfaatan teknologi pemantauan, patroli pada kawasan rawan kebakaran, serta penataan kembali prosedur pengawasan aktivitas wisatawan.
Baca Juga: Nevi Zuairina: Pencegahan Karhutla Perlu Diperkuat secara Sistematis dan Terukur
Menurut Legislator asal Sumbar II ini, penggunaan kamera pemantau panas, drone, pemeriksaan barang bawaan wisatawan, serta penguatan sistem peringatan dini dapat menjadi bagian dari solusi pencegahan.
Ia menambahkan, bahwa pasca-kebakaran, rehabilitasi kawasan terdampak juga mesti segera dipersiapkan secara terukur.
“Karhutla harus kita selesaikan bersama, mulai dari pemadaman, pencegahan hingga pemulihan ekosistem. Pemerintah perlu terus diperkuat agar memiliki teknologi, sumber daya manusia, dan anggaran yang memadai untuk menjaga kawasan konservasi strategis seperti Bromo Tengger Semeru,” tutup Nevi Zuairina.