Ngawi (29/06) — Kunjungan pengawasan yang dilakukan oleh Riyono Caping langsung menuju titik-titik strategis yang berkaitan dengan agenda nasional kedaulatan pangan. Harga gabah dan jagung di tingkat petani menjadi fokus utama untuk mengetahui sejauh mana kebijakan negara betul-betul dirasakan oleh rakyat.
“Harga gabah dan beras di tingkat petani harus sesuai dengan aturan dalam Inpres Nomor 4 Tahun 2026 yang diterjemahkan dalam Peraturan Kepala Badan Pangan Nomor 14 Tahun 2025. Rujukan utamanya, harga GKP di tingkat petani harus Rp6.500/kg dengan syarat kadar air maksimal 25 persen dan kadar hampa 10 persen,” jelas Riyono Caping, anggota legislatif PKS DPRD Jawa Timur VII.
Pengawasan terhadap kebijakan ini harus dikawal sampai level terbawah, yaitu sawah dan petani secara langsung. Berita dan laporan dari pemerintah harus diverifikasi oleh legislatif secara langsung tanpa adanya perantara.
“Pengawasan langsung kepada petani di sawah saat panen saya lakukan di Desa Pacing, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi. Bertemu petani yang sawahnya sedang panen dan terlihat dijual langsung kepada pedagang. Dialog dan diskusi soal harga langsung dengan mereka di sawah,” papar Riyono Caping.
Hasil pengawasan dan pengecekan langsung ke sawah oleh Riyono Caping menemukan data bahwa harga GKP (Gabah Kering Panen) dibeli di sawah sebesar Rp7.700/kg dengan kadar air di bawah 25 persen berdasarkan pengamatan fisik gabah secara langsung. Selain itu, ia juga berdialog dengan bakul yang membeli gabah untuk dijual langsung ke Bulog.
“Dialog saya bersama petani dan pedagang membuktikan bahwa harga GKP sudah jauh di atas HAP atau Harga Acuan Pemerintah, yakni Rp6.500. Bahkan naik lebih dari 19 persen, yang artinya ada kenaikan harga yang bagus untuk kesejahteraan petani,” tambah Riyono.
Harga yang ditemukan langsung di sawah tersebut memberikan gambaran bahwa hasil panen padi akhir Juni 2025 di Ngawi memiliki harga yang baik dan menguntungkan petani. Jika harga mencapai Rp7.700/kg, maka hasil panen per hektare dengan produksi 7 ton akan mencapai Rp53.900.000. Dengan biaya produksi sekitar Rp30 juta per hektare, petani masih memperoleh keuntungan minimal Rp23 juta per hektare dalam satu siklus tanam sekitar tiga bulan.
“Petani saat ini mendapatkan harga gabah yang paling bagus. Petani senang dan bangga menjadi petani untuk membiayai kuliah anak serta memenuhi kebutuhan harian mereka,” tutup Riyono Caping.