Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Oleh: Mohamad Sohibul Iman
Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar penanda pergantian kalender. Hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam merupakan peristiwa monumental yang mengubah arah sejarah dan peradaban manusia.

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah tidak hanya bermakna perpindahan fisik, tetapi juga transformasi nilai, cara berpikir, tata sosial, dan kepemimpinan yang melahirkan masyarakat baru yang lebih berkeadilan, beradab, dan berkemajuan.

Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, umat Islam diajak untuk tidak sekadar memperingati peristiwa sejarah, melainkan merenungkan kembali pesan-pesan besar yang terkandung di dalamnya.

Hijrah adalah tentang keberanian untuk berubah, kesediaan untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak lagi relevan, serta komitmen untuk terus bergerak menuju kondisi yang lebih baik.

Moralitas sebagai Pondasi Kemajuan

Pelajaran pertama yang dapat kita petik dari hijrah adalah pentingnya moralitas sebagai fondasi perubahan.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab hidup dalam situasi yang sering digambarkan sebagai masa jahiliyah, ketika kekuatan, kesukuan, dan kepentingan pribadi kerap mengalahkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Kehadiran Rasulullah SAW membawa perubahan mendasar. Beliau tidak hanya mengajarkan akidah dan ibadah, tetapi juga melakukan revolusi moral yang mengubah karakter manusia dan masyarakat.

Dalam sebuah hadis yang masyhur, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Pesan ini menegaskan bahwa inti dari perubahan yang dibawa Islam adalah perbaikan akhlak dan karakter manusia. Sebab tanpa moralitas, kemajuan apa pun akan kehilangan arah dan makna.

Pandangan ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai kajian akademik modern. Ilmuwan politik Francis Fukuyama dalam bukunya Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan sosial yang dibangun di atas norma-norma moral, integritas, dan tanggung jawab bersama.

Ketika kepercayaan tumbuh, kolaborasi menjadi lebih mudah, institusi menjadi lebih kuat, dan masyarakat memiliki kemampuan lebih besar untuk berkembang.

Karena itu, momentum Hijriah harus menjadi momentum memperkuat moralitas dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa. Sebab pada akhirnya, kualitas suatu peradaban sangat ditentukan oleh kualitas akhlak manusianya.

Hijrah sebagai Transformasi, Bukan Sekadar Seremoni

Pelajaran kedua adalah bahwa hijrah merupakan simbol perubahan yang nyata. Hijrah bukan perayaan, melainkan transformasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak dalam pola yang sama, kebiasaan yang sama, dan cara berpikir yang sama dari tahun ke tahun.

Kita berharap hasil berbeda, tetapi menggunakan pendekatan yang tidak berubah. Akibatnya, banyak persoalan yang terus berulang tanpa penyelesaian yang berarti.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran untuk melakukan perbaikan. Tidak ada transformasi tanpa keberanian untuk meninggalkan zona nyaman.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan pada era disrupsi saat ini. Internet telah mengubah cara manusia memperoleh dan mendistribusikan informasi.

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang mengubah cara bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan cara mengambil keputusan. Dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam konteks seperti ini, kita tidak bisa mengelola masa depan dengan cara-cara yang sepenuhnya sama seperti masa lalu. Kita memerlukan kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan terus belajar.

Sebagaimana hijrah menjadi titik balik dalam sejarah Islam, Tahun Baru Hijriah harus menjadi titik balik dalam cara kita memandang perubahan.

Hijrah harus menjadi energi transformasi yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru, inovasi baru, dan ikhtiar baru untuk menjawab tantangan zaman.

Sistem yang Baik dan Manusia yang Baik

Pelajaran ketiga adalah bahwa perubahan tidak mungkin hanya bertumpu pada satu sisi saja. Kemajuan membutuhkan sistem yang baik sekaligus manusia yang baik.

Dalam berbagai diskusi pembangunan, sering muncul perdebatan apakah keberhasilan lebih ditentukan oleh kualitas sistem atau kualitas manusianya. Sesungguhnya keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Sistem yang baik diperlukan untuk menciptakan keteraturan, keadilan, dan kepastian. Namun, sistem yang baik tidak akan menghasilkan manfaat apabila dijalankan oleh manusia yang kehilangan integritas.

Sebaliknya, manusia yang baik akan menghadapi kesulitan apabila harus bekerja dalam sistem yang buruk.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat penting dalam hal ini. Di Madinah, beliau tidak hanya membangun individu-individu yang beriman dan berakhlak, tetapi juga membangun tatanan sosial yang kuat melalui berbagai kesepakatan, aturan, dan institusi yang menjamin kehidupan bersama.

Dari sini kita belajar bahwa perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh. Kita membutuhkan sistem yang lebih baik, tata kelola lebih baik, dan kepemimpinan yang lebih baik.

Namun pada saat yang sama, kita juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki kejujuran, amanah, kompetensi, dan semangat melayani.

Menjaga Nilai-Nilai Luhur di Tengah Perubahan

Pelajaran keempat yang tidak kalah penting adalah bahwa perubahan harus tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.

Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, kemajuan teknologi saja tidak cukup untuk menjamin kemajuan peradaban.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika nilai-nilai moral melemah, kemajuan material justru dapat menjadi sumber berbagai persoalan baru.

Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukan hanya bagaimana beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga bagaimana menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Nilai kejujuran, amanah, keadilan, kepedulian sosial, kerja keras, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia harus tetap menjadi kompas yang menuntun perjalanan bangsa.

Ketika nilai-nilai baik menghilang dari ruang publik, maka ruang tersebut akan diisi oleh nilai-nilai yang tidak selalu membawa kebaikan.

Sebaliknya, ketika nilai-nilai luhur terus dihidupkan dalam percakapan, pendidikan, kebijakan, dan keteladanan, maka nilai-nilai tersebut akan menjadi energi yang mendorong lahirnya masyarakat yang lebih kuat dan lebih bermartabat.

Karena itu, tugas kita bukan hanya membangun kemajuan, tetapi juga memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap berada dalam koridor nilai dan etika yang benar.

Menjadikan Hijriah sebagai Titik Balik

Momentum 1 Muharram 1448 Hijriah hendaknya menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk berhijrah menuju keadaan yang lebih baik.

Hijrah dari kepentingan sempit menuju kemaslahatan yang lebih luas, dari sekadar rutinitas menuju transformasi, serta dari pragmatisme menuju tegaknya nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan sosial, hingga krisis moral yang mengemuka di berbagai ruang kehidupan, kita memerlukan keteguhan untuk menjaga nilai, sekaligus keberanian untuk beradaptasi dan berinovasi.

Sebab kemajuan yang sejati bukan hanya ditandai oleh kemajuan sistem dan teknologi, tetapi juga oleh kokohnya akhlak, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi momentum bagi kita semua untuk memperkuat ikhtiar menghadirkan kebaikan, memperluas manfaat, dan meneguhkan komitmen dalam membangun peradaban yang berkeadilan, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.

Sepanjang tahun ini, semoga kita semua senantiasa berada dalam kebaikan, keberkahan, dan perlindungan-Nya.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. “Fastabiqul khairat.” Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.