Subang (09/06) — Anggota DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna mengajak masyarakat untuk melakukan kerja nyata dalam menjaga lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim melalui Aksi Bersih Sungai dan Penanaman Mangrove yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Desa Anggasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Now for Climate – Saatnya Bekerja untuk Iklim” tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir, mengurangi pencemaran sungai, serta memulihkan kawasan mangrove sebagai benteng alami dari abrasi, banjir rob, dan dampak perubahan iklim.
Kegiatan yang dikoordinasikan oleh Yayasan Lingkungan Nusantara Indah (YLNI) Subang dan didukung Yayasan Sarbi Indonesia Institute itu melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Subang, Dinas Perikanan Kabupaten Subang, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Perum Jasa Tirta II, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Kementerian Pekerjaan Umum, serta sekitar 25 organisasi pegiat lingkungan hidup di Kabupaten Subang.
Dalam kesempatan tersebut, Ateng turut melakukan aksi bersih sungai dan penanaman mangrove bersama para pegiat lingkungan, nelayan, pemuda, dan masyarakat sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir.
Ateng menilai wilayah pesisir utara Subang memiliki peran ekologis yang sangat penting. Sebagai daerah hilir dari sejumlah daerah aliran sungai, kawasan pesisir menerima beban pencemaran yang cukup besar akibat aktivitas manusia, terutama persoalan sampah dan kerusakan lingkungan yang belum tertangani secara optimal.
“Subang memiliki kekayaan alam yang lengkap, dari pegunungan, dataran, hingga pesisir laut. Tetapi kekayaan ini harus dijaga dengan kerja nyata. Aksi bersih sungai dan penanaman mangrove bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi bagian dari ikhtiar bersama melindungi masyarakat pesisir dari abrasi, banjir rob, pencemaran, dan krisis iklim,” ujar Ateng.
Legislator PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX (Sumedang, Majalengka, dan Subang) itu menjelaskan bahwa Kabupaten Subang memiliki tiga daerah aliran sungai utama, yakni DAS Cilamaya, DAS Ciasem, dan DAS Cipunagara yang menjadi penopang kehidupan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem wilayah. Namun, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di sepanjang aliran sungai pada akhirnya bermuara ke kawasan pesisir dan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan serta kehidupan masyarakat pesisir.
Menurut Ateng, penanaman mangrove harus ditempatkan sebagai gerakan berkelanjutan. Mangrove bukan hanya tanaman pesisir, melainkan ekosistem penting yang menjadi habitat berbagai biota laut, pelindung garis pantai dari abrasi, penyerap karbon alami, sekaligus penopang ekonomi masyarakat nelayan.
“Menanam mangrove berarti menanam masa depan. Kita sedang melindungi pantai, menjaga sumber penghidupan nelayan, memperbaiki kualitas lingkungan, dan sekaligus berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim,” tambahnya.
Sebagai anggota Komisi XII DPR RI yang membidangi lingkungan hidup, energi, dan investasi, Ateng juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut, mulai dari pemerintah daerah, organisasi lingkungan, komunitas pemuda, nelayan, pelaku usaha, dunia pendidikan, hingga masyarakat umum. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
“Kunci keberhasilan gerakan lingkungan adalah kolaborasi. Pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia usaha, sekolah, dan generasi muda harus bergerak bersama. Saya mengapresiasi YLNI dan seluruh pihak yang telah menginisiasi kegiatan ini di Subang,” tegasnya.
Ateng berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi berkembang menjadi gerakan lingkungan yang berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Subang. Ia juga mendorong agar edukasi lingkungan diperkuat sejak usia dini melalui sekolah, komunitas pemuda, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan.
“Anak-anak harus dikenalkan sejak dini bahwa menjaga sungai, laut, dan mangrove adalah bagian dari menjaga kehidupan. Kesadaran lingkungan harus tumbuh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat,” katanya.
Ateng menegaskan komitmennya untuk terus mendorong perhatian terhadap isu lingkungan hidup, khususnya di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Menurutnya, pembangunan daerah harus berjalan beriringan dengan upaya perlindungan lingkungan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.
“Pembangunan Subang harus maju, tetapi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Kita ingin Subang tumbuh sebagai daerah yang produktif, bersih, lestari, dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” pungkas Ateng.