Lembata (06/06) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna mendorong pengembangan tanaman malapari (Pongamia pinnata) sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan sekaligus penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirangkaikan dengan pengembangan budidaya dan penanaman malapari di Desa Pasir Putih, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat (5/6/2026).
Menurut Ateng, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian alam dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa lingkungan bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan amanah yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
“Alam bukan warisan yang bisa kita habiskan, melainkan titipan yang harus kita rawat, pulihkan, dan jaga untuk anak cucu kita. Karena itu, menjaga lingkungan harus menjadi bagian dari tanggung jawab bersama,” ujar Ateng.
Ateng menjelaskan bahwa malapari merupakan tanaman strategis yang mampu menggabungkan fungsi konservasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pengembangan energi terbarukan. Selain berfungsi sebagai tanaman konservasi yang dapat memperkuat ekosistem pesisir dan lahan kering, malapari juga memiliki potensi sebagai bahan baku bioenergi, pupuk organik, pakan ternak, hingga sumber pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Menurutnya, pengembangan malapari sangat relevan bagi wilayah Nusa Tenggara Timur yang menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari kekeringan, degradasi lahan, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim. Karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lahan kering dan wilayah pesisir, tanaman ini berpotensi menjadi bagian dari solusi lingkungan sekaligus sumber penghidupan baru bagi masyarakat.
“NTT membutuhkan tanaman yang tangguh, adaptif terhadap kondisi lahan kering, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Malapari merupakan salah satu pilihan yang potensial untuk dikembangkan secara serius,” katanya.
Ateng menekankan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak cukup hanya dengan kegiatan penanaman. Ia mendorong agar pengembangan malapari dilakukan secara berkelanjutan melalui pendampingan budidaya, penyediaan bibit unggul, pembentukan kelompok pengelola, pemetaan lahan yang sesuai, serta pengembangan rantai nilai ekonomi yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Menanam itu penting, tetapi merawat jauh lebih menentukan. Kita ingin kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi bagian dari gerakan pemulihan lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa keberhasilan pelestarian lingkungan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, dan generasi muda untuk memastikan berbagai program lingkungan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
“Pembangunan dan pelestarian lingkungan tidak boleh dipertentangkan. Lingkungan yang sehat justru menjadi fondasi utama bagi pembangunan yang berkelanjutan. Tidak ada ekonomi yang kuat di atas lahan yang rusak, dan tidak ada kesejahteraan yang kokoh tanpa ekosistem yang terjaga,” ujarnya.
Ateng berharap penanaman malapari di Lembata dapat menjadi langkah awal lahirnya gerakan yang lebih luas, mulai dari pemulihan lahan kritis, pengembangan ekonomi hijau desa, hingga pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat. Menurutnya, daerah kepulauan seperti Lembata memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pembangunan berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Dari Lembata, kita ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar menjaga pohon yang kita tanam hari ini, tetapi menjaga masa depan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketika lingkungan terjaga, ekonomi masyarakat tumbuh, dan kesejahteraan pun dapat dirasakan bersama,” pungkas Ateng.