Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Jalal Abdul Nasir: Investasi Energi Harus Jadi Motor Penguatan Industri Nasional dan Penciptaan Lapangan Kerja

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (04/06) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Jalal Abdul Nasir, mendorong agar investasi di sektor energi dan sumber daya alam dapat dioptimalkan untuk memperkuat industri manufaktur nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Jalal dalam sesi PKS Legislative Report menjelang Rapat Paripurna DPR RI pada Kamis (4/6) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut Jalal, berbagai investasi strategis yang masuk ke Indonesia, khususnya di sektor energi dan migas, harus diarahkan agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional melalui penguatan industri dalam negeri.

“Saya sedang sering menyampaikan di forum rapat-rapat Komisi XII maupun BAKN, bagaimana agar investasi-investasi migas, kemudian ketahanan pangan, ketahanan energi, sebesar-besarnya dioptimalkan untuk meningkatkan dan menguatkan manufakturing industri nasional,” ujar Jalal.

Ia menilai penguatan manufaktur nasional akan menghasilkan manfaat ganda yang langsung dirasakan masyarakat. Selain membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar, sektor manufaktur juga menjadi penopang utama bagi pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM di Indonesia.

“Supaya apa? Supaya lapangan pekerjaan tercipta seluas-luasnya. Di waktu yang bersamaan itu adalah backbone UMKM kita. Jadi ada dua goal besar yang langsung dirasakan, lapangan pekerjaan tercipta dan backbone UMKM,” lanjutnya.

Jalal menegaskan bahwa manfaat investasi harus benar-benar dikawal agar berujung pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan besarnya nilai investasi di sektor migas yang dalam lima tahun ke depan diperkirakan mencapai sekitar Rp700 triliun.

“Kalau bayangkan investasi di migas itu lima tahun sekitar Rp700 triliun. Kalau separohnya saja dikuatkan untuk manufaktur dalam negeri, betapa luar biasa sebetulnya,” kata Jalal.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa konsep kemandirian energi tidak boleh dipahami hanya sebatas pemenuhan kebutuhan bahan bakar nasional. Menurutnya, kemandirian energi harus mencakup kemampuan bangsa memproduksi berbagai komponen, peralatan, dan produk pendukung sektor energi di dalam negeri.

“Kita berharap kemandirian energi bukan sekadar BBM-nya dicukupi, tapi bagaimana seluruh produk-produk yang terkait dengan ketahanan energi itu diproduksi di dalam negeri, sehingga manfaat dan multiplier effect ekonominya lebih maksimal, lebih kuat buat bangsa kita,” pungkasnya.

Jalal berharap arah kebijakan investasi nasional semakin berpihak pada penguatan kapasitas industri domestik sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, memperluas kesempatan kerja, serta memperkokoh fondasi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.