Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Semangat Nabi Ibrahim dari Lereng Dieng

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS

Setiap kali takbir Iduladha berkumandang, perhatian umat Islam sedunia biasanya tertuju pada kemegahan ibadah haji di Tanah Suci Makkah dan visualisasi penyembelihan hewan kurban di kota-kota besar.

Namun, di lekukan dataran tinggi yang berhawa sejuk, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, fenomena keagamaan yang luar biasa terjadi hampir setiap tahun.

Wilayah yang secara administratif hanya terdiri dari dua Rukun Warga (RW) ini kembali menghentak kesadaran publik dengan mencatatkan jumlah hewan kurban yang fantastis.

Di tengah keterbatasan geografis dan lanskap pedesaan, warga Krajan membuktikan bahwa ukuran kebesaran takwa tidak ditentukan oleh status metropolitan, melainkan oleh keluasan hati dan ketulusan niat.

Pada perayaan Iduladha kali ini, Dusun Krajan yang dihuni sekitar 1.341 kepala keluarga sukses menyembelih 53 ekor sapi serta 346 ekor kambing dan domba. Angka ini menunjukkan manifestasi nyata dari ketakwaan kolektif.

Menariknya, seluruh hewan kurban tersebut berasal dari 703 sohibul kurban (pekurban). Jika dikalkulasikan secara matematis, ini berarti hampir separuh dari total kepala keluarga di dusun tersebut mendaftarkan diri sebagai orang yang mengorbankan sebagian hartanya di jalan Allah.

Bahkan, syiar kurban di Krajan kian megah dengan hadirnya salah satu sapi kurban berbobot fantastis, yakni lebih dari 1 ton, yang disumbangkan salah seorang warga setempat.

Hubungan Transendental: Takwa Mengalahkan Logika Harta

Untuk memahami bagaimana wilayah kecil yang hanya terdiri dari dua RW mampu mengumpulkan ratusan hewan kurban, kita tidak bisa hanya menggunakan kacamata analisis ekonomi murni.

Apa yang terjadi di Dusun Krajan adalah buah dari hubungan transendental yang sangat intim antara makhluk dengan Sang Pencipta.

Warga Krajan, yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani sayur di dataran tinggi, memahami betul bahwa bumi yang mereka pijak, udara dingin yang mereka hirup, dan kesuburan tanah yang menumbuhkan tanaman mereka adalah milik Allah SWT yang mutlak.

Hubungan transendental ini mewujud dalam kesadaran bahwa harta yang ada di tangan mereka hanyalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan.

Bagi warga Batur, Iduladha bukanlah momen “kehilangan harta”, melainkan momentum emas untuk “mengirimkan harta” ke masa depan yang abadi di akhirat.

Rasa syukur mereka atas hasil panen tidak diwujudkan dalam bentuk gaya hidup konsumtif atau pamer kemewahan, melainkan dikembalikan kepada Allah melalui jalur kemanusiaan: menyembelih hewan kurban untuk dibagikan kepada sesama.

Ketika seorang warga dengan sukarela merawat dan menyerahkan sapi berbobot lebih dari 1 ton, di sana terjadi dialog transendental yang sunyi, tetapi kuat.

Ada keyakinan spiritual yang mendalam bahwa beratnya timbangan sapi tersebut di dunia akan berlipat ganda menjadi timbangan pahala di sisi Allah.

Warga Krajan telah berhasil menundukkan penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) dengan meletakkan dunia di tangan mereka, bukan di dalam hati mereka.

Mereka membuktikan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Meneladani Nabi Ibrahim

Semangat yang membakar dada 703 sohibul kurban di Dusun Krajan adalah replika nyata dari totalitas kepatuhan Nabi Ibrahim AS.

Ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS. Perintah yang secara logika kemanusiaan sangat mengguncang jiwa.

Namun, karena perintah itu datang dari Zat Yang Maha Memiliki, Nabi Ibrahim menyambutnya dengan kata sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat).

Warga Dusun Krajan meneladani esensi terdalam dari kisah tersebut. Mereka mungkin tidak diperintah untuk mengorbankan anak, tetapi mereka diperintah untuk menyembelih “Ismail-Ismail modern” yang ada di dalam hati mereka: ego pribadi, sifat kikir, ketakutan akan kemiskinan, dan kecintaan yang berlebihan pada materi.

Bagi seorang petani, menyisihkan uang hingga mampu membeli sapi atau kambing membutuhkan kedisiplinan spiritual yang tinggi.

Di Krajan, berkurban tidak menunggu sisa uang di tabungan, melainkan direncanakan dan dipersiapkan dengan matang sejak jauh hari melalui sistem tabungan kurban mandiri atau kelompok.

Keteladanan kepada Nabi Ibrahim ini tercermin dari cara mereka memperlakukan hewan kurban. Sapi berbobot lebih dari 1 ton yang mereka persembahkan adalah bukti bahwa warga Krajan tidak ingin memberikan persembahan yang setengah-setengah kepada Allah.

Mereka meniru prinsip bahwa untuk Zat Yang Maha Agung, hanya yang terbaiklah yang layak dipersembahkan.

Semangat pengorbanan ini meruntuhkan sekat-sekat kepelitan dan mengajarkan kepada kita semua bahwa esensi kurban adalah tentang seberapa besar kita berani melepaskan apa yang kita cintai demi meraih cinta-Nya.

Apa yang ditunjukkan oleh warga Krajan Batur melahirkan syiar Islam yang sangat dahsyat dan berwibawa. Ratusan hewan kurban yang terkumpul mengubah dusun tersebut menjadi lautan syiar pada hari tasyrik.

Prosesi penyembelihan, pengulitan, hingga pendistribusian daging tidak lagi menjadi sekadar tugas panitia masjid, melainkan menjadi festival gotong royong berskala besar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Dari orang tua, pemuda, hingga anak-anak, semua melebur dalam tugasnya masing-masing dengan wajah riang gembira.

Syiar ini menjadi luar biasa karena mampu mengetuk pintu-pintu hati orang yang menyaksikannya.

Bayangkan, bagaimana mungkin wilayah setingkat dusun mampu menghasilkan ribuan paket daging kurban berkualitas tinggi?

Pendistribusian daging kurban di Krajan bahkan sering kali melampaui batas desa mereka sendiri. Daging-daging tersebut dikirimkan ke daerah-daerah lain yang minim hewan kurban, menjangkau masyarakat yang jarang menyantap daging pada hari-hari biasa.

Ini adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) yang nyata.

Syiar Islam di Krajan menampilkan wajah Islam yang indah, Islam yang dermawan, Islam yang solutif bagi problem sosial, dan Islam yang membawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Kebersamaan dua RW ini dalam mengatur kurban massal adalah tamparan keras bagi narasi-narasi individualisme modern yang mulai menggerogoti masyarakat kita.

Di Batur, ukhuwah Islamiyah bukan sekadar jargon di atas mimbar, melainkan dipraktikkan langsung di atas talenan-talenan daging kurban.

Mengambil Spirit Warga Batur: Motivasi untuk Kita Semua

Fenomena Dusun Krajan Batur melempar pertanyaan reflektif yang menembus jantung keimanan kita:

“Jika warga sebuah dusun di lereng gunung dengan segala keterbatasan geografisnya mampu berkurban secara kolosal, apa alasan kita yang hidup di perkotaan dengan penghasilan yang sering kali lebih mapan untuk absen dari ibadah kurban?”

Kisah dari Banjarnegara ini harus kita jadikan sebagai pemantik motivasi dan cambuk bagi kelalaian kita selama ini.

Sering kali, alasan kita tidak berkurban bukanlah karena ketiadaan dana, melainkan karena absennya gaya hidup yang memprioritaskan akhirat.

Kita sering kali mampu mencicil barang-barang tersier yang nilainya puluhan juta rupiah, membeli gawai tipe terbaru, atau menghabiskan jutaan rupiah untuk rekreasi sesaat, tetapi mendadak merasa miskin dan penuh kalkulasi ketika harus membeli seekor kambing atau patungan sepertujuh sapi untuk kurban.

Warga Krajan Batur telah meruntuhkan semua alasan dan apologi kita. Mereka memberikan resep sederhana, tetapi mahal: kolektivisme, niat yang tulus, dan manajemen spiritual yang konsisten.

Spirit mereka mengajarkan bahwa berkurban adalah masalah mentalitas, bukan sekadar fasilitas kekayaan.

Seseorang yang bermental kaya akan selalu mencari jalan untuk berbagi, sementara seseorang yang bermental miskin akan selalu mencari alasan untuk menimbun harta.

Mari kita ambil spirit dan energi positif dari warga Batur. Mulai hari ini, mari kita luruskan niat dan menata kembali perencanaan finansial kita.

Jika mereka bisa merancang tabungan kurban dari hasil bumi mereka, kita pun pasti bisa menyisihkan sebagian dari gaji harian atau bulanan demi menyambut Iduladha tahun depan dengan persiapan terbaik.

Jangan biarkan Iduladha berlalu setiap tahunnya hanya sebagai penonton kemeriahan kurban orang lain, sementara kita tidak meletakkan satu pun jejak pengorbanan di hadapan Allah.