Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Riyono Caping: Panen Udang Harus Pastikan KKP dan BUMN Sama-Sama Untung

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Kebumen (25/05) — Kehadiran Presiden Prabowo dalam panen langsung tambak udang berbasis kawasan (BUBK) yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan tanda bahwa sektor perikanan budidaya sangat penting dan harus terus dikembangkan. Udang sebagai komoditas ekspor unggulan nasional saat ini menjadi primadona bagi kontributor kesejahteraan petambak dan pembudidaya.

“Presiden hadir untuk panen ini memberikan instruksi bahwa budidaya adalah penting dan pilar kesejahteraan rakyat. KKP harus optimalkan dan tancap gas kelola udang vaname,” papar Riyono Caping, anggota Komisi IV DPR RI dari Dapil VII Jawa Timur.

Sektor budidaya udang terus tumbuh di tengah dinamika internasional. Kasus Cesium-137 yang membuat penolakan produk udang di Amerika memberikan pembelajaran pentingnya budidaya yang sehat dan bebas berbagai radiasi kimia berbahaya.

“Sektor budidaya tahun 2024 mampu produksi 17,4 juta ton. Khusus udang, tahun 2020 baru 550.000 ton, 2021 naik 650 ribu ton, dan 2024 menjadi 1,2 juta ton. Artinya, lima tahun terakhir kenaikan produksi udang vaname bisa 100 persen lebih. Hampir 80 persen adalah kualitas ekspor,” tambah Riyono Caping.

BUBK Kebumen kemarin panen dengan hasil kisaran 43 ton dalam satu parsial dari total lahan 20 hektare. Jika berkembang bagus sampai panen total, hasilnya bisa mencapai lebih dari 150 ton dengan nilai panen lebih dari Rp10 miliar.

“Waktunya sekarang BUMN yang harus mengelola BUBK ini. KKP sudah membangun dan memberikan pondasi usaha bisnisnya. Agrinas dan Perindo harus bisa kelola dengan baik sehingga bisa menguntungkan. BUMN bisnis udang harus untung,” tegas Riyono.

Kehadiran Riyono dan Menteri Kelautan dan Perikanan, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan dan jajaran BUMN dalam panen bersama Presiden Prabowo, menjadi bukti bahwa jika bisnis dikelola dengan baik maka akan menguntungkan negara dan membawa kesejahteraan bagi rakyat.

“Bisnis udang masih sangat menguntungkan. Kebutuhan udang dunia masih dinamis bergerak. Tahun 2025 dunia mengonsumsi udang hampir 6,2 juta ton. Produksi sudah tembus 6 juta ton lebih. Indonesia sebagai produsen nomor lima dunia setelah China, Ekuador, India, dan Vietnam. Peluang Indonesia menjadi pemain udang nomor satu masih mungkin,” tutup Riyono.