Jakarta (13/05) — Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS, Tifatul Sembiring, mendorong pemerintah untuk memperluas fokus pengembangan dan promosi pariwisata nasional ke kawasan Indonesia bagian utara. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi PKS Legislative Report jelang Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (12/05) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Tifatul menilai potensi pariwisata Indonesia masih sangat besar dan belum tergarap secara optimal. Ia membandingkan pemasukan devisa sektor pariwisata Indonesia dengan sejumlah negara lain yang dinilai jauh lebih tinggi.
“Data devisa yang masuk ke Republik Indonesia tahun 2024 itu masih rendah, sekitar Rp64 triliun. Kalau kita bandingkan dengan Malaysia saja sudah Rp406 triliun pada tahun yang sama, dan juga dengan Jepang lebih jauh lagi Rp900 triliun pemasukan devisanya,” ujar Tifatul.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan destinasi wisata yang sangat luas dan beragam. Karena itu, promosi pariwisata tidak boleh hanya terpusat pada Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Komisi VII khususnya Fraksi PKS mendorong untuk tetap mempromosikan wisata di Indonesia,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa Fraksi PKS tidak menolak pengembangan Bali sebagai destinasi unggulan, namun pemerintah juga perlu membuka dan mengembangkan destinasi baru di wilayah lain yang memiliki potensi besar.
“Kami berfokus sebetulnya mengusulkan bukan hanya Bali ya. Bukan kita tidak setuju dengan Bali, tapi spot Indonesia itu luas sekali,” katanya.
Tifatul juga menyoroti besarnya potensi pasar wisata dari kawasan utara Asia yang menurutnya jauh lebih besar dibanding pasar tradisional dari Australia dan Selandia Baru.
“Kalau kita lihat ekonomi utara, ada China, ada India, tambah ASEAN, Korea, Jepang, dan lain-lain. Itu 3,6 miliar lebih penduduknya, bandingkan dengan 36 juta,” jelasnya.
Ia kemudian menyebut sejumlah wilayah di Indonesia bagian utara yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata internasional, seperti Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Raja Ampat.
“Saya buka di utara itu banyak sekali spot, masuk di Aceh, Sumatera Utara, daerah Kepri, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, sampai ke Maluku Utara dan Raja Ampat,” tegas Tifatul.
Menurutnya, jika potensi tersebut dikelola secara serius dan terintegrasi, devisa sektor pariwisata Indonesia dapat meningkat berkali-kali lipat di masa mendatang.
“Saya pikir angka Rp64 triliun itu mungkin bisa dilipatkan 10 atau 100 kali lipat,” pungkasnya.