Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Soroti Insiden Lomba Cerdas Cermat MPR, Anggota DPR Aus Hidayat Nur Tekankan Pentingnya Keteladanan Mengajarkan Ideologi

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (13/05) — Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Aus Hidayat Nur, menyoroti insiden kontroversial pada Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang memicu perdebatan publik. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi pelajaran berharga bagi institusi negara, karena generasi muda saat ini lebih membutuhkan keteladanan nyata dari para pejabat dibandingkan sekadar rutinitas hafalan ideologi.

Menanggapi insiden yang terjadi pada Sabtu (9/5/2026) lalu tersebut, Aus mengibaratkan kesalahan dewan juri layaknya peribahasa “gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.” Menurutnya, kesalahan teknis dan komunikasi dari personel pembawa misi penyampaian Empat Pilar tersebut dapat berdampak fatal, yakni memicu keraguan dan sikap skeptis dari masyarakat, khususnya generasi muda.

“Bertahun-tahun menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dan berdiskusi dengan generasi muda, saya semakin yakin urgensi materi ini bukan sekadar basa-basi. Kita bernegara bukan seperti kerumunan tanpa arah,” ujar Aus dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026). “Namun, supaya generasi baru mau diajak bicara soal ideologi, mereka harus diberi bukti bahwa negara ini berpihak kepada mereka.”

Aus menjelaskan, di tengah arus informasi digital yang begitu cepat, masyarakat sangat rentan terhadap polarisasi, hoaks, dan politik identitas. Empat Pilar (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) memegang peran vital sebagai titik temu (common denominator) konsensus bernegara. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai ini ke akar rumput sangat penting untuk mencegah perpecahan sosial.

Lebih lanjut, legislator asal Kalimantan Timur ini menilai wajar jika pemuda saat ini senantiasa menagih dampak nyata dari Pancasila dan tata negara terhadap kesejahteraan masyarakat sehari-hari.

“Jangan disangka mereka sedang memberontak. Kekritisan siswa SMAN 1 Pontianak kepada juri justru adalah wujud kekritisan rakyat yang perlu dihargai,” tegas Aus. Ia menambahkan bahwa program sosialisasi melalui lomba cerdas cermat pada dasarnya adalah ikhtiar yang baik untuk merangsang pemahaman siswa dengan iming-iming prestasi, namun pelaksanaannya mutlak membutuhkan integritas.

Sebagai penutup, Aus mengingatkan seluruh elemen penyelenggara negara bahwa kesalahan teknis mungkin akan segera dilupakan oleh publik, tetapi tuntutan akan integritas akan terus ada.

“Benang merahnya tetap berlaku, bahwa masyarakat menunggu personifikasi yang utuh terhadap ideologi negara. Mereka bertanya apa perwujudan Pancasila itu pada perilaku pejabat negara. Generasi saat ini tidak ingin lagi cuma mendengar atau membaca, mereka ingin melihat wujud nyatanya,” pungkasnya.