Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Amin Ak: Windfall Komoditas Harus Dimanfaatkan untuk Menyehatkan APBN

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (12/05) — Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak, meminta pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas global untuk memperkuat kondisi fiskal nasional dan menjaga kesehatan APBN. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi PKS Legislative Report jelang Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (12/05) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Amin menyoroti pengumuman pemerintah terkait pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 yang mencapai 5,61 persen. Namun menurutnya, di tengah capaian tersebut, pemerintah juga menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya beban utang negara yang telah mencapai Rp9.920 triliun.

“Artinya beban APBN kita itu cukup berat ya. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas global di tengah situasi Timur Tengah yang memang tidak menentu,” ujar Amin.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan besar terhadap APBN. Menurutnya, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS berpotensi membebani APBN hingga Rp6,8 triliun. Meski demikian, Indonesia juga memperoleh peluang dari meningkatnya harga sejumlah komoditas unggulan ekspor.

“Tapi di sisi lain banyak harga komoditas Indonesia yang juga naik. Ada CPO, ada batubara, ada nikel, ada tembaga. Jadi pemerintah harus memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjadi windfall revenue, menyehatkan APBN kita,” lanjutnya.

Amin memaparkan bahwa kenaikan harga batubara sebesar 10 dolar AS dapat menambah pendapatan negara sekitar Rp1,64 triliun, sementara kenaikan harga CPO sebesar 10 dolar AS per ton berpotensi meningkatkan pendapatan hingga Rp2,15 triliun.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap sektor ekspor agar potensi penerimaan negara tidak bocor. Ia juga mengingatkan pemerintah untuk memastikan devisa hasil ekspor tetap masuk dan tersimpan di dalam negeri.

“Pemerintah harus pintar-pintar ini dengan melakukan pengawasannya ketat, jangan sampai ada under-invoicing, kemudian masalah royaltinya, dan juga dana-dana dari hasil ekspor itu harus benar-benar masuk dan disimpan di negeri Indonesia. Jangan sampai diparkir di luar negeri,” tegas Amin.

Selain itu, Amin turut menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang hingga kini masih menjadi tantangan ekonomi nasional. Menurutnya, optimalisasi penerimaan dari sektor komoditas dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan fiskal dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.