Brebes (07/05) — Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyoroti rendahnya angka partisipasi pemuda Kabupaten Brebes untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang saat ini berada di titik kritis, yakni 15 hingga 17 persen.
Guna mengatasi ketertinggalan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah tersebut, Fikri mendorong empat strategi konkret bagi perguruan tinggi lokal dalam Simposium Peningkatan Partisipasi Perguruan Tinggi di Aula Bawah Universitas Muhammadiyah Brebes (UMBS), Rabu (6/5/2026) di Bumiayu.
Menurut Fikri, Brebes mengalami “kebocoran” besar pada sektor pendidikan pascasekolah menengah. Meski partisipasi sekolah tingkat dasar (SD/MI) mencapai 108,84 persen dan SMP/MTs sebesar 93,65 persen, persentase tersebut anjlok drastis pada jenjang perguruan tinggi.
Oleh karena itu, legislator Fraksi PKS DPR RI ini menilai perguruan tinggi lokal harus memosisikan diri sebagai mesin utama penggerak IPM agar Brebes bisa keluar dari posisi tiga terbawah di Jawa Tengah.
“Membangun Brebes bukan dengan mewariskan kemiskinan, tetapi dengan mewariskan pendidikan tinggi yang inklusif dan solutif,” tegas Fikri dalam paparannya sebagai pembicara kunci (keynote speaker).
Untuk mengubah paradoks tersebut menjadi potensi, Fikri memaparkan empat pilar eksekusi strategis yang harus diterapkan kampus.
Pertama, transformasi pendidikan vokasi dan terapan melalui pembukaan program studi yang sesuai potensi daerah, serta pemberian sertifikasi keahlian agar lulusan terserap maksimal oleh industri.
Kedua, penyediaan beasiswa dan jemput bola ke sekolah untuk membuktikan Return on Investment (ROI) bahwa pendidikan mampu mengubah ekonomi keluarga.
Ketiga, pentingnya hilirisasi riset untuk memberdayakan ekonomi warga, seperti penciptaan teknologi pengawetan bawang merah, diversifikasi telur asin, dan pembentukan pusat inkubasi bisnis di kampus.
Keempat, perluasan akses kuliah melalui skema hibrida atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang menyasar masyarakat di pelosok maupun pekerja.
Lompatan strategis tersebut diakui tidak bisa berjalan sendiri. Fikri mengingatkan pentingnya tanggung jawab kolektif melalui sinergi pentahelix yang mengolaborasikan kekuatan pemerintah daerah, industri atau swasta, perguruan tinggi, media, dan masyarakat luas.
Simposium hasil kerja sama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Komisi X DPR RI, dan UMBS ini turut dihadiri Rektor UMBS Budiyanto, Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemendiktisaintek I Ketut Adnyana, Sekretaris Dindikpora Brebes Untung Sunoto, dan Kaprodi Sistem Informasi UMBS Fitri Ayuning Tyas.