Jakarta (04/05) — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pelajar Islam Indonesia menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali arah perjuangan pelajar Islam di tengah perubahan zaman yang kian cepat.
PII didirikan pada Ahad, 4 Mei 1947 M, bertepatan dengan 12 Jumadil Tsani 1366 H di Yogyakarta. Dalam perjalanan lebih dari tujuh dekade, PII telah menjadi salah satu organisasi pelajar tertua di Indonesia yang konsisten dalam kaderisasi berbasis nilai keislaman, keindonesiaan, dan kepelajaran.
Anggota DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, menegaskan bahwa HUT PII bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi ideologis di tengah era disrupsi.
“Perubahan hari ini tidak hanya bersifat teknologi, tetapi juga menyentuh cara berpikir dan cara hidup. Ideologi harus hadir sebagai kompas, bukan sekadar materi kaderisasi,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan bahwa ruang hidup generasi muda kini sangat didominasi oleh dunia digital. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 229 juta jiwa pada 2025, dengan tingkat penetrasi lebih dari 80% populasi.
Menariknya, pengguna internet didominasi generasi muda, di mana Gen Z menjadi kelompok terbesar dalam ekosistem digital nasional. Bahkan, 93% remaja usia 13–19 tahun aktif di media sosial setiap hari, dengan rata-rata penggunaan hampir 6 jam per hari, menjadikan ruang digital sebagai arena utama pembentukan pola pikir dan perilaku generasi pelajar.
Di sisi lain, transformasi digital juga semakin masif di sektor pendidikan. Tercatat lebih dari 316 ribu sekolah di Indonesia telah terhubung dengan internet pada tahun ajaran 2024/2025.
Menurut Aboe Bakar, fakta ini menunjukkan bahwa tantangan pelajar hari ini bukan lagi keterbatasan akses, melainkan arah dan kualitas pemanfaatan.
“Generasi pelajar tidak boleh hanya menjadi penikmat teknologi. Mereka harus menjadi penggerak perubahan yang memiliki kedalaman nilai dan kejernihan berpikir,” tegasnya.
Ia menambahkan, ideologi PII yang merupakan sintesis antara keislaman, keindonesiaan, dan kepelajaran tetap relevan untuk menjawab tantangan tersebut, selama mampu diimplementasikan secara kontekstual.
Dalam momentum HUT PII ini, terdapat tiga langkah strategis yang perlu diperkuat. Pertama, internalisasi nilai, yaitu memastikan ideologi hidup dalam perilaku kader, tercermin dalam akhlak, kecerdasan, dan kepedulian sosial. Kedua, adaptasi metode, dengan menjadikan ruang digital sebagai medium kaderisasi dan dakwah yang efektif di tengah dominasi teknologi. Ketiga, penguatan visi peradaban, dengan mendorong kader berpikir visioner dan mampu merumuskan arah masa depan umat dan bangsa.
Lebih dari 78 tahun sejak berdirinya, PII dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan di tengah perubahan yang disruptif. Tanpa pewarisan ideologi yang kuat, organisasi berisiko kehilangan arah.
“HUT PII harus menjadi titik kebangkitan, bukan hanya dalam seremoni, tetapi dalam kesadaran, pemikiran, dan aksi nyata,” tutupnya.
Peringatan HUT PII diharapkan menjadi momentum untuk menguatkan peran kader sebagai agen perubahan, serta memastikan organisasi tetap hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Selamat HUT PII. Saatnya meneguhkan warisan dan menyalakan kembali api perjuangan.