Jakarta (21/01) — Audiensi Komisi XII DPR RI dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Indonesia dan Senat Mahasiswa PTKIN se-Indonesia diselenggarakan pada Rabu, 21 Januari 2026, sebagai ruang penyerapan aspirasi terkait arah pengelolaan energi dan lingkungan nasional.
“Silaturahim dan pertukaran gagasan ini sangat berharga untuk memperkuat fungsi pengawasan kami di Komisi XII, khususnya dalam isu energi dan lingkungan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Jalal Abdul Nasir.
Dalam pertemuan tersebut, aspirasi mahasiswa disampaikan secara konstruktif dengan penekanan pada pengembangan energi bersih dan terbarukan, seiring keprihatinan atas degradasi lingkungan pascatambang yang membutuhkan perhatian berkelanjutan serta dukungan kebijakan lintas pemangku kepentingan.
“Prinsip memulai dari tujuan akhir menjadi kunci, sebagaimana praktik reklamasi yang baik; jika tujuan pemulihan sudah dirancang sejak awal, dampak lingkungan dapat diminimalkan secara sistematis,” tutur legislator PKS tersebut.
Kajian mahasiswa juga menyoroti pentingnya riset dan policy brief berbasis temuan lapangan sebagai kontribusi akademik untuk memperkaya diskursus publik mengenai transisi energi yang adil, berkelanjutan, dan sensitif terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar.
“Kami mengapresiasi kajian yang disusun; idealisme mahasiswa perlu terus dirawat dengan pembelajaran berkelanjutan dan aksi nyata yang relevan dengan kebutuhan hari ini,” kata Jalal.
Audiensi ini dimaknai sebagai dialog dua arah yang saling menguatkan, di mana kegelisahan generasi muda disampaikan dengan bahasa kebijakan yang santun, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara wakil rakyat dan komunitas kampus keagamaan.
“Praktik-praktik lingkungan yang bertanggung jawab dapat dimulai dari skala kecil, seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas, yang jika terintegrasi mampu memberi dampak besar bagi kualitas hidup warga,” lanjutnya.
Berbagai contoh praktik baik di daerah disampaikan sebagai inspirasi, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berorientasi keberlanjutan dapat mendorong kemandirian dan kesejahteraan, bahkan tanpa ketergantungan pada sumber daya ekstraktif.
“Mari terus belajar, bekerja, dan menjadi pelopor; dengan sistem politik yang kuat dan kesadaran lingkungan yang tumbuh, cita-cita keadilan sosial dapat kita upayakan bersama,” pungkas Jalal.