Banyumas (23/12) — Tepat satu tahun sejak diaktifkan kembali sebagai stasiun naik-turun penumpang, Stasiun Kebasen menandai perjalanannya dengan tasyakuran sederhana namun sarat makna, Senin (22/12/2025). Perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas peran infrastruktur transportasi dalam membuka akses, memangkas jarak, dan menumbuhkan denyut ekonomi kawasan.
Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PKS, Yanuar Arif Wibowo, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan harapannya agar aktivasi Stasiun Kebasen benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, keberadaan stasiun harus menjadi simpul mobilitas yang efektif dan efisien, bukan hanya bagi individu pengguna kereta, tetapi juga bagi pertumbuhan wilayah Kebasen dan sekitarnya.
“Ketika bepergian itu lebih mudah dan efisien, maka peluang ekonomi ikut terbuka. Di Kebasen ini ada Bendung Gerak Serayu, destinasi wisata, kuliner, dan potensi lain. Stasiun ini harus tumbuh dan berkembang bersama lingkungannya,” ujar Yanuar.
Namun demikian, ia juga menyoroti keterbatasan layanan yang masih ada. Selama satu tahun terakhir, baru dua kereta yang berhenti di Stasiun Kebasen, yakni KA Bengawan dan KA Serayu. Aspirasi masyarakat untuk penambahan jumlah kereta, termasuk kemungkinan adanya gerbong eksekutif, terus mengemuka.
“Kita paham ada aturan, apalagi ini kereta bersubsidi. Semua harus menyesuaikan regulasi. Tapi kalau permintaan meningkat dan trafiknya naik, saya yakin tantangan itu akan dijawab oleh KAI,” tambahnya.
Data pertumbuhan penumpang yang dipaparkan Kepala Daop 5 Purwokerto, Mohamad Arie Faturrochman, menunjukkan tren yang menjanjikan. Sejak diresmikan pada 23 Desember 2024, jumlah penumpang mengalami peningkatan signifikan. Pada Januari 2025, penumpang masih di kisaran seratus orang per bulan. Memasuki Desember 2025, angkanya melonjak menjadi lebih dari 400 orang, bahkan berpotensi menembus 500 penumpang seiring momen libur akhir tahun.
“Artinya ada kenaikan hampir lima kali lipat. Ini tentu menggembirakan, karena keberadaan Stasiun Kebasen terbukti memberi warna bagi perkembangan ekonomi wilayah,” ungkap Arie.
Meski demikian, terkait rencana penambahan kereta yang berhenti di Kebasen, pihak KAI masih akan mengkaji lebih lanjut. Dengan rata-rata kurang dari 20 penumpang per hari, menurut Arie, trafik tersebut belum cukup kuat untuk menjadi dasar penambahan layanan.
“Kalau nanti bisa mencapai 100 penumpang per hari, tentu akan ada pertimbangan untuk menambah kereta yang berhenti di sini. Biasanya kami juga melakukan survei jenis layanan yang dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.
Dalam konteks itulah, tasyakuran satu tahun Stasiun Kebasen menjadi lebih dari sekadar peringatan usia. Ia menjadi penanda awal sebuah proses panjang: bagaimana infrastruktur transportasi diuji oleh kebutuhan riil masyarakat, dan bagaimana angka-angka trafik perlahan diterjemahkan menjadi kebijakan layanan.
Stasiun Kebasen hari ini mungkin masih kecil dalam peta perkeretaapian nasional. Namun dari sinilah harapan tumbuh—bahwa dengan konsistensi, peningkatan minat, dan sinergi kebijakan, stasiun ini kelak tak hanya menjadi tempat singgah, melainkan motor penggerak konektivitas dan ekonomi lokal Banyumas bagian barat.