Jakarta (25/11) — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan, menyoroti stagnasi produksi kedelai nasional yang hingga kini masih jauh dari kebutuhan masyarakat. Dalam sesi PKS Legislative Report sebelum Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (25/11), Johan menekankan pentingnya langkah konkret pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai.
Ia menjelaskan bahwa kedelai merupakan bahan pangan utama yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. “Kedelai ini kan makanan sehari-hari kita—tempe, tahu, dan sebagainya itu kedelai. Tapi beberapa tahun ini pertumbuhan produksi kita masih pada angka 0,2 sampai 0,3 juta ton per tahun,” ujar Johan. Sementara itu, kebutuhan nasional berada jauh di atas angka tersebut. “Kebutuhan kita sekitar 26 juta ton,” tambahnya.
Menurut Johan, keberhasilan swasembada beras dan capaian positif dalam produksi jagung semestinya menjadi motivasi untuk menuntaskan persoalan kedelai. “Kedelai ini juga harus dijadikan prioritas,” tegasnya.
Ia mengabarkan bahwa dalam rapat kerja terakhir, Kementerian Pertanian menyampaikan rencana strategis untuk meningkatkan produksi kedelai melalui pemanfaatan lahan sitaan. “Alhamdulillah, Kementerian Pertanian menyatakan bahwa lahan-lahan yang disita itu akan dijadikan konsentrasi penanaman kedelai. Mudah-mudahan ini bisa kita wujudkan secara bersama-sama,” ungkapnya.
Johan berharap komitmen tersebut benar-benar direalisasikan sehingga Indonesia mampu secara bertahap menuju swasembada kedelai dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.