Jakarta (25/11) — Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI yang juga Anggota Fraksi PKS DPR RI, Ahmad Heryawan (Aher), menegaskan bahwa gencatan senjata yang sempat diumumkan di Palestina tidak menghentikan genosida yang dilakukan oleh Israel. Hal itu ia sampaikan dalam sesi PKS Legislative Report menjelang Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/11).
Aher menjelaskan bahwa harapan masyarakat dunia terhadap gencatan senjata adalah berakhirnya serangan, terbukanya jalur bantuan kemanusiaan, dan pemulihan kehidupan warga di Gaza. Namun kenyataannya sangat berbeda.
“Meski isi gencatan senjata itu adalah menghentikan peperangan, menghentikan genosida, termasuk membuka seluas-luasnya bantuan kemanusiaan. Faktanya sejak gencatan senjata justru terjadi beragam jenis genosida, pembunuhan, pengeboman, termasuk hangusan kawasan pengungsi,” ujarnya.
Ia juga mengutip laporan utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, yang menyebut bahwa lebih dari seribu warga Palestina menjadi korban setelah gencatan senjata diumumkan, baik korban jiwa maupun luka-luka. “Ini tentu harus menjadi perhatian masyarakat dunia, kalau ternyata gencatan senjata tidak dan belum mengakhiri genosida di Palestina,” tegasnya.
Aher menilai situasi ini menunjukkan bahwa dunia internasional harus mengambil langkah yang jauh lebih tegas untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan tersebut. Ia menekankan bahwa gencatan senjata seharusnya menjadi jalan menuju kemerdekaan Palestina, bukan sekadar penghentian sementara serangan tanpa solusi keadilan.
“Kebijakan gencatan senjata itu harus berujung pada segera dipulihkannya kemerdekaan bangsa Palestina, diberikannya hak bangsa Palestina untuk merdeka,” tuturnya.
Terkait rencana pengerahan pasukan internasional berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB, Aher menyampaikan kekhawatirannya, terutama jika misi tersebut disertai agenda pelucutan senjata kelompok perlawanan Palestina.
“Bahaya sekali kalau dihendaki dengan pelucutan senjata Hamas dan pasukan-pasukan lainnya. Bayangkan, nanti yang ada adalah pelucutan perlawanan, dan Israel bisa masuk lagi. Ini yang sangat kita khawatirkan,” kata Aher.
Ia juga memberi perhatian khusus terhadap wacana pengiriman pasukan Indonesia ke Palestina. Menurutnya, setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak masuk dalam skenario yang merugikan perjuangan kemerdekaan Palestina.
“Kami meminta semua pihak berhati-hati agar tidak kena jebakan. Pasukan Indonesia harus menjaga Palestina dan kemerdekaannya, bukan melucuti persenjataan bangsa Palestina,” tegasnya.
Aher menegaskan bahwa selama genosida masih berlangsung, dunia internasional wajib bersikap lebih keras terhadap Israel dan memperjuangkan keadilan bagi rakyat Palestina. “Genosida sebagai kejahatan kemanusiaan tidak boleh dibiarkan. Itu adalah kejahatan perang yang harus diproses,” ujarnya.
Ia menutup penyampaiannya dengan mengajak masyarakat Indonesia dan komunitas global untuk terus memperkuat dukungan bagi Palestina, baik secara diplomatik, kemanusiaan, maupun penguatan posisi di forum internasional.