Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Wakil Ketua Komisi X DPR RI: Sekolah Garuda Jadi Terobosan Pemerataan Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (17/10) — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, menilai program Sekolah Garuda sebagai salah satu terobosan besar dalam pemerataan akses pendidikan berkualitas di Indonesia. Menurutnya, kehadiran Sekolah Garuda menjadi simbol bahwa negara tidak hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga membangun masa depan anak-anak bangsa.

“Sekolah Garuda hadir sebagai terobosan harapan. Ia menjadi simbol bahwa negara tidak hanya membangun gedung sekolah, tetapi membangun masa depan anak-anak bangsa. Terobosan ini bukan hanya soal infrastruktur pendidikan, melainkan perubahan paradigma: dari pemerataan fisik menuju pemerataan kesempatan,” ujar Kurniasih di Jakarta Jumat (17/10/2025).

Ia menegaskan, proyeksi Indonesia Emas 2045 harus disokong dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing di ranah global. Program Sekolah Garuda, kata Kurniasih, merupakan bagian dari upaya strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara merata dan berkualitas.

“Maka tujuan berbangsa yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, salah satunya dengan lahirnya program Sekolah Garuda, harus kita maknai secara positif. Ini bukan hanya program pendidikan biasa, tapi investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia,” jelasnya.

Kurniasih menjelaskan bahwa konsep Sekolah Garuda dibagi menjadi dua jenis, yaitu Sekolah Garuda Baru yang dibangun dari nol, dan Sekolah Garuda Transformasi yang memanfaatkan sekolah unggulan yang sudah ada.

“Dengan model ini, kita berharap Sekolah Garuda Baru bisa hadir di wilayah yang belum terjangkau, khususnya di daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal-red). Apalagi 80 persen pembiayaannya akan ditanggung pemerintah. Ini berarti selain pemerataan, ada kesempatan luas bagi calon murid berprestasi dari latar ekonomi kurang mampu untuk menjadi bagian dari Sekolah Garuda Baru,” jelasnya.

Kurniasih menambahkan, bila dijalankan dengan baik, Sekolah Garuda akan menghadirkan pemerataan akses pendidikan unggul antarwilayah, sekaligus mengurangi ketimpangan mutu pendidikan.

“Jika ditempatkan di daerah-daerah seperti 3T, tentu akan sangat membantu mengurangi kesenjangan akses pendidikan berkualitas. Ini langkah nyata menuju keadilan pendidikan nasional,” imbuhnya.

Dari sisi kurikulum, Kurniasih menilai pendekatan International Baccalaureate (IB) dengan fokus pada Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) akan menjadikan lulusan Sekolah Garuda siap bersaing di dunia global.

“Dengan pendekatan kurikulum seperti itu, lulusannya diharapkan kompatibel dengan standar internasional dan bisa bersaing di universitas terkemuka di dunia,” tuturnya.

Namun, ia juga mengingatkan pentingnya transparansi dalam pelaksanaan dan penerimaan peserta didik agar program ini benar-benar tepat sasaran.

“Tidak boleh ada yang namanya murid titipan. Harus jelas parameter penerimaan siswa. Transparansi menjadi kunci agar kepercayaan publik terhadap program ini tetap tinggi,” tegasnya.

Selain itu, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan guru juga menjadi perhatian penting.

“Para guru dan pengajar harus dibekali dengan peningkatan kapasitas yang mumpuni serta kesejahteraan yang sesuai. Guru adalah jantung dari kualitas pendidikan,” kata Kurniasih.

Ia juga menekankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada Sekolah Garuda, tetapi tetap memperhatikan sekolah reguler agar tidak terjadi kesenjangan baru.

“Sekolah reguler juga wajib diperhatikan, supaya tidak muncul situasi di mana hanya Sekolah Garuda yang disupport, sementara sekolah lain makin tertinggal,” ujarnya.

Kurniasih mendorong adanya pendidikan kolaboratif antara Sekolah Garuda dengan sekolah negeri maupun swasta di sekitarnya.

“Guru-guru dari sekolah lain bisa mengikuti pelatihan atau co-teaching yang diselenggarakan Sekolah Garuda. Bahkan fasilitas seperti laboratorium atau ruang IT bisa digunakan bersama untuk kegiatan sains dan proyek kolaboratif,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh upaya ini akan bermuara pada satu tujuan besar: menjadikan bonus demografi Indonesia sebagai kekuatan utama menuju Indonesia Emas 2045.

“Modal utama Indonesia menyongsong Indonesia Emas 2045 adalah menjadikan bonus demografi sebagai kekuatan kapital baru dengan SDM yang berdaya saing global. Semua itu dimulai dari pendidikan yang bisa diakses semua kalangan, berkualitas, dan inklusif,” pungkas Kurniasih.

Ia menutup dengan pesan kuat bahwa sinergi semua program pendidikan akan menjadi kunci kesuksesan bangsa.

“Tidak boleh ada anak Indonesia yang tidak bersekolah. Jika kita serius bersinergi antara Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan program pendidikan lainnya, maka kita akan memiliki modal besar untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tutupnya.