Jakarta (04/01) — Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Alifudin, khawatir atas intervensi Lembaga Eijkman oleh Pemerintah lewat Badan Riset dan Inovasi Nasional, akan dampak penanganan Covid-19 terhadap vaksin merah putih.
Karena, kata Alifudin, diawal pandemi Covid-19, Eijkman salah satu lembaga yang mendorong agar dilakukan tes banding atas false negatif di Litbangkes.
“Dengan dileburnya ke BRIN, LBM Eijkman khawatir mudah diintervensi lewat kepentingan politik nantinya, karena pada dasarnya peneliti atau saintis itu harus terus memiliki daya kritis yang tinggi” ungkap Alifudin kepada wartawan, Senin (03/01/2021).
Alifudin menambahkan bahwa, jika nalar kritis peneliti diintervensi, nantinya akan menjadi keliru dalam mendapatkan hasil penelitian yang mutakhir, khususnya untuk kasus Covid-19 yang sampai sekarang belum usai.
“Peleburan ini harus dilihat dari berbagai aspek, seperti para staf peneliti yang lulusan luar negeri ingin mengabdi ke Indonesia, dengan bekerja di Eijkman, taunya di PHK tanpa pesangon, hal itu jangan sampai membuat pesimis para akademisi kita,” tambah bang Alif.
Alifudin juga khawatir dengan BRIN yang arahnya akan menjadi kepentingan politik nantinya, karena salah satu Dewan Pengarah BRIN adalah Pimpinan Partai Politik.
“Semoga BRIN dan lembaga terkait yang dilebur tidak terikat dengan kepentingan atau intervensi politik belaka, kita semua berharap Covid-19 juga harus bersama diatasi,” tutup Alifudin
Selain itu, soal Vaksin Merah Putih yang jadwal penyelesaian Uji Klinis diundur, alifudin pun berharap agar BRIN terus maju untuk mensukseskan penyelesaian Vaksin Merah Putih.
Lembaga Eijkman (WASCOVE) mengumumkan perpisahannya di awal 2022. Mulai 1 Januari 2022, kegiatan deteksi COVID-19 di PRBM Eijkman akan diambil alih oleh Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN.