Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Atasi Rapor Merah PISA 2025, Fikri Faqih Desak Pendekatan Psikologis dan Pedagogi Guru Ketimbang Administrasi

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (15/09) — Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendesak pemerintah mengedepankan pendekatan keterampilan lunak (soft skill) dalam mengatasi tingginya angka perundungan dan penurunan skor Matematika pada rilis data PISA 2025.

Alih-alih berfokus pada pemenuhan administrasi dan perombakan kurikulum di atas kertas, pemerintah dinilai harus membekali sekolah dengan kemampuan mediasi psikologis dan perbaikan pedagogi guru.

Hal tersebut disampaikan Fikri merespons 24 persen murid Indonesia yang mengalami perundungan serta turunnya skor numerasi nasional. Menurutnya, pendekatan humanis dan metode pengajaran yang tepat adalah kunci utama membenahi iklim pendidikan.

“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar mengubah kurikulum di atas kertas, menjadi pelatihan intensif untuk mengubah cara guru mengajar di dalam kelas (pedagogi), dari yang tadinya sekadar ceramah dan hafalan menjadi penemuan konsep bersama siswa,” tegas Fikri Faqih di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Terkait solusi penanganan perundungan, Fikri menilai pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di tiap sekolah belum efektif karena sebatas menggugurkan kewajiban administratif.

Legislator Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) ini lantas menekankan bahwa anggota TPPK, baik guru maupun komite, harus mendapatkan pelatihan khusus.

Mereka wajib menguasai kemampuan mediasi psikologis, teknik investigasi netral tanpa menyudutkan korban (victim-blaming), serta cara melindungi kerahasiaan pelapor. Tanpa pendekatan yang lembut dan aman ini, korban akan tetap ketakutan dan perundungan akan terus menghancurkan mental anak.

“Otak manusia tidak bisa menyerap pelajaran saat berada dalam mode bertahan hidup. Murid yang merasa terancam tidak akan bisa meraih skor akademik yang baik, sehingga anggaran pendidikan besar akan terbuang sia-sia,” tambahnya.

Pendekatan soft yang sama juga ditawarkan Fikri untuk memperbaiki merosotnya skor Matematika. Ia menyarankan Indonesia meniru pendekatan pembelajaran dari negara maju yang tidak memaksa anak menghafal rumus.

Fikri mencontohkan Singapura yang sukses menerapkan metode penguasaan materi (mastery) melalui manipulasi benda konkret dan visualisasi sebelum masuk ke simbol abstrak.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah memberikan otonomi penuh kepada guru seperti di Estonia, sehingga pendidik bebas menentukan metode yang paling cocok bagi murid di kelasnya tanpa terbebani birokrasi yang kaku.