Jakarta (27/08) — Merespons situasi Indonesia yang akhir-akhir ini banyak diwarnai protes dan unjuk rasa, Anggota DPR RI Fraksi PKS Meity Rahmatia mengingatkan kembali para pemimpin dan anak bangsa untuk meneladani Rasulullah, Nabi Muhammad SAW.
“Selagi masih suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, jadikan momentum ini untuk introspeksi diri. Bagaimana idealnya nilai-nilai kepemimpinan yang dicontohkan dan ditunjukkan Nabi Muhammad dalam membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan bernegara di Madinah beberapa abad silam,” jelasnya.
Menurutnya, Rasulullah merupakan sosok pemimpin umat yang paripurna dalam segala aspek, baik dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan, politik, maupun ekonomi. “Rasulullah disebut rahmat bagi seluruh alam di dalam Al-Qur’an. Kepribadiannya luhur, tulus, dan ikhlas. Cintanya suci dan bersih kepada seluruh makhluk, terlebih kepada sesamanya manusia. Ia dikenal suka membantu, mengorbankan apa saja untuk meringankan beban sesama,” ungkapnya.
Dalam konteks hari ini, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera itu, fenomenanya justru terbalik. “Kalau Rasulullah menunjukkan pengorbanan dan keikhlasan, ya sekarang justru semuanya berpikir bagaimana agar bisa mendapatkan keuntungan secara pribadi dari mengelola pemerintahan dan sumber daya alam di negara ini. Nah, kondisi ini yang dicermati masyarakat sehingga muncul rasa ketidakadilan,” imbuhnya.
Pula dalam kemanusiaan, kata Meity, Rasulullah memiliki doktrin yang dipraktikkan langsung oleh para sahabat dan umat Islam di zamannya, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Misalnya, di tengah situasi sekarang ini katanya, seperti dengan adanya bencana gempa yang dialami masyarakat di Nusa Tenggara Timur, konsep tersebut sangat relevan dipraktikkan.
Meity mengaku turut prihatin, dalam beberapa bencana seperti di Aceh beberapa waktu lalu, juga di NTT saat ini, fenomena protes warga terhadap kinerja pemerintah selalu muncul. “Ada protes soal kelambanan, bantuan yang ditilap, dan lain-lain. Meski kejadian-kejadian itu perlu diamati dari banyak aspek, tapi fenomena itu menunjukkan bahwa ada masalah,” katanya.
Tak hanya dalam bencana alam, pada masalah kemanusiaan terkait dengan kehidupan sosial di Indonesia, menurut Meity, konsep kemanusiaan yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW sangat perlu dipraktikkan. Dalam beberapa tahun ini, bebernya, kekerasan, terutama pada anak dan perempuan, meningkat tajam yang dilatari banyak hal. Faktor paling berpengaruh adalah masalah ekonomi.
“Tahun 2025, Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus. Angka ini naik sekitar 14,07% dibanding sebelumnya. Belum lagi di tahun 2026 ini, lebih naik lagi karena kekerasan juga terjadi melalui dunia digital,” ungkapnya.
Sering kali, kata Meity, nafsu ekonomi mereduksi akal sehat dan rasa kemanusiaan. Kecintaan dan empati di hati jadi hilang dan rela menempuh segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
“Pada suasana Maulid Nabi ini, kita perlu melihat kembali bagaimana kepribadian Rasulullah yang berhati lembut, selalu diliputi rasa cinta kepada sesamanya. Di dalam Al-Qur’an, ia disebut memiliki perasaan yang selalu peka pada kondisi kehidupan orang lain. Turut menderita bila menyaksikan penderitaan orang lain, dan segera membantunya. Ia juga memiliki sifat melindungi, terutama bagi kaum lemah, termasuk pada anak-anak, orang tua, dan perempuan,” pungkasnya.