Jakarta (14/07) — Awal pekan ini, Senin (13/7/2026), sekolah-sekolah di seluruh wilayah tanah air Indonesia kembali sibuk. Proses belajar-mengajar kembali berlangsung. Tahun ajaran baru 2026/2027 telah dibuka diawali dengan masa pengenalan lingkungan sekolah bagi murid-murid baru sepekan ini, baik di sekolah-sekolah negeri maupun swasta.
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera turut menyampaikan selamat bagi seluruh anak-anak Indonesia yang mulai bersekolah. Termasuk kepada orang tua yang turut mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang sekolah dengan haru dan bahagia di hari pertamanya. “Selamat kepada seluruh anak-anak kita, generasi pelanjut yang hari ini menapaki dunia barunya, yaitu dunia sekolah. Juga kepada para orang tua, yang sejauh ini sukses mengantarkan anak-anak mereka masuk ke dunia pendidikan dasar, menengah pertama, dan atas,” ungkapnya.
Selain itu, pada momentum tahun ajaran 2026/2027 ini, Meity menaruh harapan besar agar dunia pendidikan semakin maju, dapat diakses seluruh anak bangsa, adil bagi semua, dan menjunjung tinggi hak asasi setiap anak didik. Menurutnya, upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam beberapa tahun ini patut diapresiasi. Namun itu tidak cukup bila akses pendidikan dasar dan menengah belum menyentuh seluruh anak bangsa dari semua kalangan. “Semoga di momen ini, harapan itu akan terwujud,” imbuhnya sembari mengingatkan data yang dirilis sendiri oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah awal tahun ini.
Data tersebut menyebut, per 1 April 2026, jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia mencapai 3.966.858 anak. Rinciannya, 1.913.633 anak belum pernah bersekolah, 986.755 anak putus sekolah, dan 1.066.470 anak lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga mencatat sekitar 76 persen anak tidak bersekolah disebabkan oleh faktor ekonomi.
“Angka yang sangat besar. Kita semua berharap, pertengahan hingga akhir 2026 data tersebut berkurang. Apalagi dengan hadirnya Program Indonesia Pintar dan visi Bapak Presiden Prabowo yang mulai mewujudkan hadirnya sekolah rakyat,” jelasnya.
Meity juga menekankan kembali tentang pendidikan yang berperspektif HAM. Menurutnya, dengan pengintegrasian perspektif HAM ke dalam kurikulum dan budaya sekolah, maka nilai-nilai kebangsaan seperti toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia yang sejalan dengan prinsip ajaran agama bisa ditanamkan sejak dini.
“Pendidikan berperspektif HAM termasuk pembangunan lingkungan sekolah yang nyaman dan aman. Tidak hanya dari aspek infrastruktur atau fasilitas, tapi juga dari aspek sosialnya. Zero intimidasi, kekerasan, bullying, pelecehan, penyalahgunaan wewenang, dan lain sebagainya yang bisa menghambat daya nalar atau analisis, kreativitas, daya kritik, dan kemandirian siswa,” pungkasnya.