Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Ateng Sutisna Dorong Sinergi SARBINESIA dengan Gerakan Taubat Ekologis Nasional

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (14/07) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna menyatakan dukungan terhadap Gerakan Taubat Ekologis Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Menurutnya, gerakan tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai inisiatif masyarakat agar mampu menghadirkan pemulihan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah tantangan perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya pencemaran lingkungan, Ateng menilai Indonesia membutuhkan gerakan bersama yang tidak hanya bertumpu pada regulasi, tetapi juga membangun kesadaran moral, partisipasi masyarakat, dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan.

Gerakan Taubat Ekologis Nasional mengedepankan kolaborasi lintas agama melalui Gerakan Siaga Bumi, pengembangan Eco Rumah Ibadah, serta target penanaman dua miliar pohon, termasuk rehabilitasi daerah aliran sungai dengan bambu dan pemulihan kawasan pesisir melalui penanaman mangrove.

“Gerakan ini merupakan terobosan penting karena menghadirkan dimensi moral dan spiritual dalam pelestarian lingkungan. Namun keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari sejauh mana ekosistem benar-benar pulih dan masyarakat memperoleh manfaatnya,” ujar Ateng.

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan Gerakan SARBINESIA: Hijaukan Negeri, Dinginkan Bumi yang telah ia gagas sejak 2024 sebagai gerakan kolaboratif berbasis masyarakat. Berbekal pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang rehabilitasi lingkungan, kehutanan, sertifikasi legalitas kayu, dan pemberdayaan masyarakat, SARBINESIA dirancang untuk menghubungkan kebijakan dengan aksi nyata di lapangan.

Ateng menjelaskan, SARBINESIA dibangun melalui lima pilar utama, yaitu pengembangan sentra persemaian untuk rehabilitasi daerah aliran sungai, mata air, bambu, dan mangrove; pengembangan Eco-Pesantren, Eco-Masjid, dan Sekolah Hijau; pendampingan masyarakat melalui program Sungai, Mata Air, dan Pesisir Asuh; pengembangan ekonomi sirkular melalui Sarbinesia Circular Community; serta pembangunan Dashboard Dampak SARBINESIA untuk memantau tingkat keberhasilan rehabilitasi lingkungan dan manfaat yang diterima masyarakat.

“Tagline Hijaukan Negeri, Dinginkan Bumi harus diwujudkan melalui aksi nyata. Pohon harus tumbuh, mata air harus terlindungi, sungai harus semakin bersih, sampah harus berkurang, dan masyarakat harus memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan menjaga lingkungan,” tegasnya.

Ia menilai paradigma gerakan lingkungan juga perlu berubah. Keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah bibit yang dibagikan, tetapi dari tingkat kelangsungan hidup pohon, luas kawasan yang berhasil dipulihkan, membaiknya kualitas sungai dan mata air, berkurangnya sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir maupun sungai, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam pelestarian lingkungan.

Karena itu, Ateng mendorong terbangunnya sinergi antara Gerakan Taubat Ekologis Nasional dan Gerakan SARBINESIA. Menurutnya, kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, komunitas, dan masyarakat akan mempercepat rehabilitasi lingkungan, memperkuat ekonomi hijau, memperluas literasi ekoteologi, serta mendukung pengembangan perdagangan karbon yang berintegritas.

“Gerakan Taubat Ekologis akan semakin kuat apabila didukung gerakan masyarakat yang bekerja secara nyata. Kolaborasi inilah yang akan mempercepat pemulihan lingkungan sekaligus mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang,” pungkas Ateng.