Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Ateng Sutisna Dukung Gerakan Taubat Ekologis, Ingatkan Jangan Berhenti pada Seremoni

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (13/07) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna mengapresiasi peluncuran Gerakan Taubat Ekologis Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Menurutnya, gerakan tersebut menjadi momentum penting untuk mengubah cara pandang terhadap lingkungan dari sekadar urusan teknis menjadi gerakan moral, sosial, ekonomi, dan kebudayaan yang melibatkan seluruh elemen bangsa.

Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat menjelaskan bahwa Gerakan Taubat Ekologis dibangun melalui tiga tahapan, yakni menyadari kesalahan terhadap alam, berkomitmen untuk tidak mengulanginya, serta melakukan tindakan nyata secara konsisten. Gerakan ini juga diperkuat melalui pelibatan generasi muda, rehabilitasi mangrove, target penanaman dua miliar pohon, serta pengembangan bambu sebagai solusi berbasis alam.

Menurut Ateng, pendekatan tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang selama bertahun-tahun lebih banyak memandang alam sebagai sumber eksploitasi ekonomi, sementara dampak kerusakan lingkungannya justru harus ditanggung masyarakat melalui banjir, longsor, abrasi, hingga penurunan kualitas lingkungan.

“Taubat ekologis tidak boleh berhenti sebagai slogan atau seremoni menanam pohon. Sebagaimana makna taubat itu sendiri, setelah mengakui kesalahan harus ada perubahan perilaku dan tindakan yang nyata,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan ekoteologi merupakan langkah yang tepat karena mampu mendekatkan isu lingkungan dengan kehidupan masyarakat melalui nilai-nilai keagamaan. Namun, menurutnya, kesadaran lingkungan harus berjalan seiring dengan tata kelola yang baik dan penegakan hukum yang konsisten.

“Kesadaran lingkungan harus berjalan bersama penegakan hukum. Keadilan ekologis mensyaratkan bahwa tanggung jawab harus sebanding dengan skala kerusakan yang ditimbulkan,” tegasnya.

Ateng juga menyambut baik target penanaman dua miliar pohon yang difokuskan pada bambu dan mangrove sebagai bagian dari solusi berbasis alam. Menurutnya, bambu memiliki manfaat ekologis dan ekonomi yang besar, sedangkan rehabilitasi mangrove sangat penting untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi, intrusi air laut, sekaligus meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon biru (blue carbon).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Indonesia telah berkali-kali menjalankan berbagai program penghijauan, mulai dari reboisasi, rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), hingga gerakan penghijauan nasional. Tantangan utamanya bukan terletak pada banyaknya pohon yang ditanam, melainkan pada keberlanjutan pemeliharaan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Berdasarkan pengalaman, kita jangan mengulang pola lama. Banyak kegiatan penanaman berhenti sebagai proyek seremonial, sementara pohonnya tidak terawat dan masyarakat tidak memperoleh manfaatnya,” katanya.

Karena itu, Ateng mengusulkan agar Gerakan Taubat Ekologis dijalankan melalui tiga jalur secara bersamaan. Pertama, membangun perubahan perilaku melalui keluarga, sekolah, pesantren, rumah ibadah, perguruan tinggi, dan komunitas. Kedua, mempercepat pemulihan ekosistem dengan memprioritaskan rehabilitasi daerah aliran sungai kritis, mata air, kawasan pesisir, mangrove, lahan terdegradasi, hingga kawasan pascatambang. Ketiga, mengembangkan ekonomi hijau agar kegiatan menjaga hutan, menanam bambu, merehabilitasi mangrove, mengelola sampah, mengembangkan pertanian regeneratif, dan ekonomi sirkular mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang yang lebih besar kepada generasi muda, bukan sekadar menjadi peserta kegiatan, tetapi sebagai inovator, pengelola data, pelaku usaha hijau, hingga pemimpin komunitas lingkungan.

“Anak muda jangan hanya kita undang untuk memegang bibit dan berfoto. Berikan mereka ilmu, teknologi, data, jaringan, dan kesempatan membangun green jobs,” ujarnya.

Ateng menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan gerakan besar yang mampu menyatukan nilai spiritual, ilmu pengetahuan, kebijakan negara, kapasitas dunia usaha, dan partisipasi masyarakat dalam satu langkah bersama.

“Saya mendukung Gerakan Taubat Ekologis. Tetapi dukungan terbaik bukanlah tepuk tangan, melainkan tindakan nyata. Mari kita mulai dari tempat kita berdiri: satu mata air kita jaga, satu sungai kita pulihkan, satu sekolah kita hijaukan, dan satu komunitas kita berdayakan. Gerakan Taubat Ekologis Nasional harus mampu mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada generasi mendatang,” pungkas Ateng.