Sumedang (23/06) — Anggota MPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX, Ateng Sutisna, menegaskan bahwa bela negara tidak selalu diwujudkan melalui pengabdian di medan tempur, tetapi juga tercermin dalam sikap sehari-hari yang menjunjung konstitusi, menjaga persatuan, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ateng saat kegiatan Aspirasi Masyarakat (Asmas) MPR RI yang diikuti kader dan anggota PKS Kabupaten Sumedang. Kegiatan dikemas dalam rangkaian Kemah Bela Negara (Kembara) PKS Sumedang di Kawasan Wisata Tanjung Duriat, Kabupaten Sumedang, Selasa (23/6).
Berbeda dengan forum kebangsaan pada umumnya, kegiatan Asmas kali ini dilaksanakan dalam suasana perkemahan di ruang terbuka. Menurut Ateng, pendekatan tersebut dipilih agar pembahasan mengenai kebangsaan berlangsung lebih dialogis, partisipatif, dan membangun kebersamaan antarpeserta.
“Bela negara bukan sekadar slogan, seragam, ataupun kegiatan seremonial. Bela negara harus hadir dalam sikap sehari-hari, mulai dari menjaga persatuan, menaati hukum, menolong masyarakat, merawat lingkungan, hingga menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” ujar Ateng.
Ia menekankan bahwa kader partai politik memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjadi teladan di tengah masyarakat. Karena itu, kader tidak cukup hanya memahami strategi organisasi, tetapi juga harus memiliki karakter kebangsaan, kepekaan sosial, dan kemampuan mendengar serta memperjuangkan aspirasi rakyat.
“Kader partai harus hadir sebagai bagian dari solusi. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan lingkungan, keterbatasan pelayanan publik, ataupun perpecahan sosial, kader tidak boleh hanya menjadi penonton. Kader harus hadir, mendengar, bekerja, dan memberikan manfaat,” tegasnya.
Ateng menjelaskan bahwa kegiatan Aspirasi Masyarakat MPR RI merupakan ruang dialog dua arah antara anggota MPR RI dan masyarakat. Melalui forum tersebut, berbagai pandangan, pengalaman, serta persoalan yang dihadapi masyarakat dapat dihimpun sebagai bahan dalam menjalankan fungsi konstitusional MPR RI.
“Karena itu kegiatan ini tidak dibuat seperti seminar biasa. Kita ingin membangun suasana yang lebih terbuka dan akrab sehingga peserta bukan hanya mendengarkan materi, tetapi juga menyampaikan gagasan dan aspirasi yang tumbuh dari masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa partai politik merupakan salah satu pilar demokrasi yang harus mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan negara.
“Aspirasi masyarakat tidak boleh berhenti sebagai catatan kegiatan. Aspirasi harus dipilah, diperjuangkan, dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan lembaga negara. Politik harus kembali pada tujuan dasarnya, yaitu memperjuangkan kemaslahatan rakyat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ateng mengajak seluruh peserta mengaktualisasikan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Empat Pilar tidak boleh berhenti sebagai materi yang dihafalkan, tetapi harus menjadi pedoman dalam berpolitik, berorganisasi, dan bermasyarakat. Pancasila diwujudkan melalui penghormatan terhadap kemanusiaan, musyawarah, dan keadilan sosial; UUD NRI Tahun 1945 menjadi landasan dalam menghormati hukum dan demokrasi; komitmen terhadap NKRI dibuktikan dengan menjaga persatuan; sedangkan Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan melalui penghormatan terhadap keberagaman.
“Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Kader PKS harus menjadi perekat masyarakat dan mampu bekerja sama dengan siapa pun demi kepentingan rakyat, daerah, dan bangsa,” tuturnya.
Ateng menilai format Kemah Bela Negara relevan untuk membentuk ketangguhan fisik, mental, spiritual, dan sosial kader. Menurutnya, kegiatan lapangan mengajarkan disiplin, kepemimpinan, kerja sama, kemandirian, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan yang dibutuhkan dalam menghadapi dinamika bangsa.
“Kembara harus melahirkan kader yang tangguh. Ketangguhan itu bukan untuk merasa lebih hebat daripada orang lain, melainkan untuk melindungi yang lemah, membantu masyarakat, dan menjaga persatuan,” katanya.
Pemilihan Kawasan Wisata Tanjung Duriat sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Ateng mengingatkan bahwa kecintaan terhadap tanah air harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan hidup.
“Tanah air bukan konsep yang abstrak. Tanah air adalah tanah yang kita pijak, air yang kita gunakan, udara yang kita hirup, dan lingkungan yang akan diwariskan kepada anak cucu. Karena itu, menjaga alam juga merupakan bagian dari bela negara,” ungkapnya.
Mengakhiri arahannya, Ateng mengajak seluruh kader dan anggota PKS Sumedang menjadikan Kembara sebagai momentum memperkuat soliditas organisasi sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat melalui pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendidikan politik yang santun, pelestarian lingkungan, dan advokasi terhadap berbagai persoalan warga.
“Sepulang dari Kembara, ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa banyak materi yang diingat atau kegiatan yang diselesaikan. Ukuran utamanya adalah apakah kita menjadi lebih disiplin, lebih peduli, lebih rendah hati, dan lebih siap melayani masyarakat,” pungkas Ateng.