Jakarta (21/05) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna mendukung pengembangan tanaman Malapari (Pongamia pinnata) sebagai salah satu alternatif sumber bahan baku biodiesel generasi baru di Indonesia. Pengembangan ini tidak hanya berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi instrumen rehabilitasi ekologis pada lahan marjinal maupun kawasan bekas tambang.
Keberhasilan mengembangkan biodiesel berbasis kelapa sawit telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu pionir global pemanfaatan energi terbarukan berbasis nabati. Implementasi mandatori B35 pada tahun 2023 berhasil mencatatkan konsumsi biodiesel hingga 12,2 juta kiloliter & memberikan dampak berupa penghematan devisa impor energi, penciptaan nilai tambah industri, penyerapan tenaga kerja, hingga penurunan emisi gas rumah kaca.
“Keberhasilan program biodiesel nasional patut diapresiasi karena berhasil memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung agenda transisi energi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini tengah dipersiapkan implementasi B40 serta pengembangan bertahap menuju B50 & B100. Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap kelapa sawit sebagai bahan baku tunggal biodiesel juga menghadirkan tantangan dan risiko.
Meningkatnya kebutuhan Crude Palm Oil (CPO) berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebutuhan pangan, tata ruang lahan, hingga isu lingkungan seperti deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Sehingga, ia menilai tanaman Malapari menjadi salah satu kandidat yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini diketahui memiliki kemampuan tumbuh yang sangat baik pada lahan kritis, tandus, maupun terdegradasi yang selama ini tidak produktif secara ekonomi & dapat dioptimalkan untuk pengembangan tanaman energi tanpa harus berbenturan dengan kebutuhan pangan maupun kawasan hutan produktif.
“Jadi konsepnya bukan membuka hutan baru, tetapi justru memanfaatkan lahan kritis dan memperbaiki ekosistem yang rusak,” katanya.
Selain memiliki daya tahan ekologis yang tinggi, Malapari juga menawarkan karakteristik biologis yang menjanjikan. Tanaman ini memiliki umur hidup sangat panjang dan terus menghasilkan biji produktif selama puluhan tahun setelah memasuki usia panen. Hal tersebut memberikan stabilitas suplai bahan baku energi jangka panjang yang sangat penting.
Namun, ia mengingatkan agar pengembangan Malapari tidak terjebak pada euforia berlebihan seperti yang pernah terjadi pada program nasional tanaman jarak pagar pada awal tahun 2000-an.
“Jangan sampai Malapari dipromosikan secara berlebihan tanpa menampilkan fakta yang ada. Pengembangan harus tetap berbasis riset, uji lapangan, & perhitungan yang realistis,” tegasnya.
Ia menilai pendekatan yang lebih tepat untuk pengembangan Malapari adalah melalui sistem wanatani terpadu atau agroforestry, bukan model monokultur skala besar yang padat modal. Dengan pola tersebut, tanaman Malapari dapat dikombinasikan dengan aktivitas pertanian & rehabilitasi kawasan sehingga manfaat ekologis dan ekonominya dapat berjalan bersamaan.
Ini menjadi potensi besar dalam mendukung rehabilitasi lahan pascatambang. Eksploitasi tambang terbuka selama ini meninggalkan kerusakan ekologis serius yang sulit dipulihkan secara alami. Malapari dinilai mampu beradaptasi sangat baik, terutama ketika dikombinasikan dengan teknologi biologis seperti mikoriza.
Sehingga, pengembangan Malapari harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar bioenergi berkelanjutan yang mengintegrasikan ketahanan energi, rehabilitasi lingkungan, & penguatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan kritis.
Ia lalu mendorong Kementerian ESDM, KLH, perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor industri untuk membangun kolaborasi riset secara lebih serius untuk menguji kesiapan komersial tanaman tersebut.
“Malapari memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari masa depan energi hijau sekaligus memulihkan kerusakan lingkungan yang selama ini terjadi,” pungkasnya.