Jakarta (18/05) — Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Habib Idrus Aljufri, mempertanyakan efektivitas indikator kinerja utama (IKU) Bank Indonesia yang dinilai terlalu mudah dicapai, meski diklaim seluruh target telah melampaui capaian. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/05).
Dalam rapat tersebut, Idrus mengapresiasi capaian BI yang disebut melampaui target IKU. Namun, ia menekankan bahwa capaian tersebut harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Bapak menyatakan seluruh IKU melampaui target, saya apresiasi. Tapi apakah target IKU ini tidak terlalu rendah sehingga mudah dicapai? Sebetulnya apa output yang harus dirasakan oleh masyarakat dengan IKU Bapak yang melebihi target tersebut?” ujar Idrus.
Selain menyoroti capaian kinerja BI, legislator PKS itu juga mengangkat potensi tekanan ekonomi global yang dinilai masih membayangi perekonomian nasional. Menurutnya, kenaikan harga energi, tingginya suku bunga global, hingga potensi arus modal keluar perlu diantisipasi secara serius oleh Bank Indonesia.
“Jika tekanan eksternal berkepanjangan, harga energi semakin meningkat, suku bunga global bertahan tinggi, dan arus modal keluar berlanjut, apakah BI masih memiliki ruang kebijakan yang cukup?” kata Idrus.
Ia kemudian mempertanyakan instrumen utama yang akan menjadi andalan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan tersebut, baik melalui suku bunga, intervensi pasar, maupun kebijakan makroprudensial lainnya.
Dalam kesempatan yang sama, Idrus juga memberi perhatian khusus terhadap kondisi pembiayaan sektor riil, terutama UMKM. Ia mengingatkan agar instrumen moneter Bank Indonesia tidak justru membuat likuiditas perbankan lebih banyak terserap ke instrumen keuangan dibandingkan disalurkan ke sektor produktif.
“Saya berharap jangan sampai likuiditas perbankan itu justru banyak berputar di instrumen keuangan dibandingkan ke sektor riil,” tegasnya.
Idrus secara khusus menyinggung tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang saat ini berada di level 6,41 persen. Ia meminta BI memastikan instrumen tersebut tidak menimbulkan efek crowding out terhadap pembiayaan UMKM dan sektor produktif lainnya.
“Kalau SRBI sekarang sudah 6,41 persen, bagaimana kemudian BI memastikan instrumen moneter yang diterbitkan, termasuk SRBI ini, tidak menimbulkan crowding out terhadap pembiayaan UMKM dan sektor riil?” pungkas Idrus.