Majalengka (08/05) — Anggota DPR RI Dapil Jawa Barat IX Fraksi PKS, Ateng Sutisna, mengajak kaum ibu di Kabupaten Majalengka untuk menjadi pelopor utama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup melalui perubahan pola hidup dan pengelolaan sampah dari lingkup keluarga.
Hal tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan reses masa persidangan IV tahun 2025-2026 yang dikemas dalam bentuk talkshow bertajuk “Alam Lestari, Bermula dari IBU” yang digelar di Kantor DPTD PKS Majalengka, Minggu (3/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti kalangan perempuan dan menghadirkan pegiat lingkungan Umi Ririen Meidiana Sumantri, perintis Bank Sampah Unit (BSU) Wana Bestari.
Ateng menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan kebijakan dan infrastruktur semata, tetapi membutuhkan perubahan budaya yang dimulai dari rumah tangga. Keluarga merupakan titik awal pembentukan perilaku masyarakat terhadap lingkungan, dan di dalam keluarga, peran ibu sangat menentukan.
“Kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari keluarga. Di sini peran ibu menjadi sangat penting dalam membentuk kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menyoroti persoalan sampah yang terus meningkat dari waktu ke waktu dan berpotensi menjadi ancaman serius apabila tidak dikelola secara bijak. Karena itu, ia mendorong masyarakat, khususnya kaum ibu, untuk mulai membangun budaya memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
“Ibu-ibu memiliki potensi besar. Sampah organik maupun anorganik seharusnya tidak langsung dibuang, tetapi bisa dipilah dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi maupun produk produktif,” jelasnya.
Ia juga membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Jepang yang menurutnya memiliki budaya disiplin dan kesadaran lingkungan yang sangat tinggi. Ia menilai keberhasilan pengelolaan lingkungan di negara tersebut bukan hanya karena sistem pemerintahannya, tetapi terutama karena kesadaran masyarakat yang sudah terbentuk.
“Di Jepang kita justru sulit menemukan tempat sampah di ruang publik, tetapi lingkungannya tetap bersih. Itu karena masyarakatnya memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan. Semangat seperti ini yang perlu kita bangun bersama di daerah,” ungkapnya.
Perubahan besar dalam isu lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Perempuan memiliki posisi penting dalam membangun ketahanan lingkungan sekaligus ketahanan keluarga. Menurutnya, pola konsumsi rumah tangga, pengelolaan sampah, hingga edukasi kepada anak-anak sangat dipengaruhi oleh peran ibu dalam keluarga.
“Karena itu, kaum ibu harus menjadi pelopor perubahan budaya lingkungan,” tegasnya.
Ia juga mendorong penguatan edukasi lingkungan berbasis komunitas agar gerakan pengelolaan sampah dan gaya hidup ramah lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Sehingga kegiatan edukasi seperti ini dapat memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya di Kabupaten Majalengka.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi bersama. Dan perubahan itu bisa dimulai dari rumah, dimulai dari keluarga, dan dimulai dari peran seorang ibu,” pungkasnya.