Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Pendidikan Dalam Keluarga untuk Wujudkan Generasi Cerdas Berkarakter

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Oleh: Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si.

Ketua Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPP PKS — Wakil Ketua Komisi X DPR RI

Meningkatnya kasus-kasus yang melibatkan anak dan remaja seperti bullying dan pelecehan seksual di Indonesia menghentak perhatian kita semua. Kasus bullying tidak hanya terjadi di perkotaan, namun juga di pedesaan. Tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat, bahkan juga terjadi di lingkungan pendidikan seperti sekolah, sekolah berasrama dan juga kampus. Demikian juga dengan pelecehan seksual dengan berbagai pola kasus. Bahkan yang terbaru kita dikejutkan dengan pelecehan seksual melalui group percakapan di media sosial yang terjadi di kampus negeri ternama, di fakultas yang seharusnya mahasiswanya paling mengerti masalah hukum. Demikian juga terungkapnya berbagai bentuk pelecehan seksual di beberapa kampus negeri lainnya.

Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan lonjakan kasus bullying di lingkungan pendidikan dari 285 pada tahun 2023 menjadi 573 kasus pada 2024. Dari jumlah tersebut sekitar 31% terjadi di lingkungan pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kasus bullying yang terjadi meliputi kekerasan fisik, verbal, hingga cyberbullying. Temuan KPAI bahkan menunjukkan maraknya kekerasan fisik dan perundungan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Hal yang memprihatinkan adalah bahwa
Indonesia masuk dalam peringkat kelima dari 78 negara dengan tingkat perundungan tertinggi (41,4%) menurut data PISA. Ini tentu saja menjadi darurat nasional kasus bullying. Data SIMFONI-PPA hingga Juli 2025, mayoritas korban kekerasan dan pelecehan adalah anak usia 13–17 tahun, yang mencakup rentang usia remaja.

Fenomena ini membuat kita bertanya, apa yang salah dengan pendidikan kita ? Apalagi di sisi lain, kita juga masih menghadapi tantangan besar pada pendidikan kita. Hasil Asesmen Nasional 2022 menunjukan bahwa 41% murid SMP/MTS di Indonesia tidak mencapai batas minimum kompetensi literasi dan 59,37% siswa SMP/MTS di Indonesia tidak mencapai batas minimum kompetensi Numerasi. Belum lagi persoalan kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, bahkan antar unit pendidikan dalam satu sekolah.

Dukungan Keluarga Bagi Proses Pendidikan

Tidak mudah bagi negara besar seperti Indonesia yang memiliki wilayah luas dan tersebar dalam banyak pulau untuk membangun pendidikan yang berkualitas secara merata. Demikian juga dengan usaha untuk menghasilkan siswa yang memiliki kualifikasi baik secara merata jika hanya mengandalkan pendidikan di sekolah. Pendidikan sejatinya bukan hanya proses belajar mengajar di sekolah. Apalagi jika kita mengacu pada tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Ujung dari tujuan ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk peradaban bangsa yang bermartabat

Keluarga memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Apalagi waktu peserta didik sesungguhnya lebih banyak di rumah dibandingkan di sekolah. Keluarga berperan krusial dalam prestasi siswa melalui penyediaan lingkungan yang harmonis, dukungan emosional, bimbingan belajar, serta pemenuhan fasilitas. Orang tua juga memiliki tanggungjawab dalam pendidikan anak bukan hanya dalam penyediaan biaya. Lebih dari itu, orang tua dan keluarga berperan besar dalam menyediakan lingkungan yang harmonis yang mendukungnya untuk berprestasi dan sekaligus membentuk karakter positif pada diri anak. Keluarga juga berperan dalam memberikan dukugan emosional bagi anak dalam menjalani hari-hari belajar di sekolah. Keluarga dapat memberikan semangat, penghargaan dan apresiasi atas usaha anak, dan menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman (harmonis) untuk mengurangi stres saat belajar di sekolah

Bahkan orang tua juga bisa berperan dalam mendampingi dan memberikan bimbingan dalam proses siswa mempelajari bahan ajar dari sekolah. Orang tua menjadi sahabat anak dalam belajar di rumah dengan membimbing anak mengulang pelajaran, membantu tugas sekolah, dan membangun komunikasi yang lancar terkait kegiatan akademik. Pada saat itu juga orang tua bisa menyampaikan pesan-pesan moral dan motivasi agar anak memiliki karakter positif dan akhlak yang baik. Pendampingan yang dilakukan selama di rumah seperti mengatur jadwal harian agar anak belajar mengelola waktu, membatasi penggunaan gawai juga menjadi bagian dari membangun karakter kedisiplinan anak

Ketika anak sudah masuk pada tahap pendidikan menengah dan pendidikan tinggi/lanjutan, orang tua juga bisa menjadi tempat berdiskusi bagi anak dalam mengarahkan bakat dan minatnya. Orang tua dengan pengalaman yang dimiliki dan pertemanan dengan berbagai kalangan profesi bisa membimbing dan menjadi tempat bertanya dan diskusi bagi anak dalam mengembangkan minat dan bakat, bahkan juga dalam penentuan bidang ilmu dan keahlian dalam menempuh pendidikan tinggi. Sehingga orang tua tidak hanya sebatas menyediakan biaya pendidikan bagi anak dalam proses pendidikannya

Pemerintah memahami pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak dan perlunya kerjasama antara keluarga/orag tua dengan pihak sekolah. Dalam implementasi kurikulum Merdeka, didorong adanya kolaborasi tiga komponen yaitu dengan menempatkan guru, siswa dan orang tua sebagai mitra sejajar yang harus berkomunikasi rutin terkait capaian pembelajaran anak. Dalam Kurikulum Merdeka juga sekolah didorong menyelenggarakan program seperti “Belajar Bersama Orang Tua” (BERSATU) di mana orang tua dapat menjadi guru tamu atau berbagi pengalaman profesi kepada siswa atau bentuk kegiatan parenting lainnya. Bentuk peran orangtua juga bisa difasilitasi melalui pembentukan Paguyuban kelas sebagai wadah formal bagi orang tua di setiap kelas untuk memudahkan koordinasi dan partisipasi dalam kegiatan sekolah.

Mulai dari Pembangunan Ketahanan Keluarga

Menyadari besernya tantangan yang dihadapi dalam pendidikan anak di era digital saat ini dan pentingnya dukungan keluarga dalam pendidikan anak, maka keluarga menjadi kunci dalam mencapai tujuan pendidikan menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. Karena keluarga merupakan tempat tumbuh dan berkembang pertama kalinya bagi seorang anak. Karakter anak biasanya mulai terbentuk dari kebiasaan atau pola asuh yang dilakukan orang tua selama masa anak-aanak hingga remaja

Ketahanan keluarga adalah kondisi dinamik/kemampuan keluarga dalam mengelola sumberdaya dan masalah keluarga, dengan dilandasi nilai yang dianutnya berusaha mencapai tujuan yang ingin dicapai yaitu kehidupan yang sejahtera dan berkualitas. Ketahanan keluarga mencakup aspek fisik, sosial, psikologis dan spiritual. Ketahanan keluarga sangat penting untuk mendukung pendidikan anak karena keluarga adalah “sekolah pertama” dan fondasi utama pembentukan karakter, nilai-nilai, serta kebiasaan positif anak. Keluarga yang kokoh secara fisik, emosional, dan sosial menyediakan lingkungan kondusif yang mendorong motivasi belajar, percaya diri, dan kemandirian anak dalam menghadapi tantangan.

Terwujudnya ketahanan keluarga akan semakin memperkuat fungsi keluarga sebagai basis pendidikan karakter dan nilai karena Keluarga adalah tempat pertama anak mendapatkan pendidikan moral, spiritual, dan sosial. Ketahanan keluarga menjamin penanaman nilai positif secara konsisten. Keluarga yang harmonis dan stabil memberikan rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan mengelola emosi (resiliensi) yang diperlukan anak untuk fokus belajar.

Ketahanan keluarga juga akan lebih memastikan berlangsungnya pendampingan belajar yang konsisten bagi anak dan berjalannya pemantauan tumbuh kembang anak dan remaja secara fisik, psikis dan psikomotorik.