Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Saat Negara Hadir untuk Ibu Pekerja: Makna Hari Buruh Internasional yang Lebih Berarti

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Oleh: Reni Astuti – Anggota DPR RI Fraks PKS

Di antara riuh langkah kaki yang berderap setiap tanggal 1 Mei, ada suara yang tak selalu lantang, tetapi tak pernah padam–suara perempuan pekerja. Mereka bangun sebelum fajar, menanak harapan di dapur sederhana, lalu melangkah ke ruang kerja dengan tekad yang tak kalah besar dari siapa pun. Saat senja datang, mereka kembali, bukan untuk beristirahat sepenuhnya, melainkan melanjutkan peran yang tak tergantikan, yakni menjadi ibu, menjadi pendidik pertama, menjadi penjaga peradaban kecil bernama keluarga.

Di situlah makna Hari Buruh Internasional atau May Day menemukan kedalaman yang sering kali terlewat. Hari Buruh bukan sekadar panggung tuntutan upah dan kesejahteraan, tetapi juga ruang refleksi tentang keadilan yang utuh, yakni keadilan yang menyentuh perempuan sebagai pekerja sekaligus sebagai pilar keluarga.

Perempuan pekerja Indonesia hidup dalam simpul tanggung jawab yang saling menguatkan, tetapi juga saling menuntut. Pada satu sisi, mereka berkontribusi nyata bagi ekonomi bangsa. Pada sisi lain, mereka memikul amanah besar dalam membentuk generasi masa depan. Dalam perspektif nilai-nilai yang dijunjung, keluarga adalah fondasi utama masyarakat. Maka, kebijakan publik semestinya tidak memisahkan antara produktivitas ekonomi dan ketahanan keluarga, melainkan menjadikannya satu kesatuan yang saling menopang.

Dalam konteks itulah, komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan fasilitas penitipan anak atau daycare patut diapresiasi sebagai langkah awal yang strategis. Ini bukan sekadar program teknis, melainkan pengakuan negara harus hadir untuk membantu perempuan menjalankan peran gandanya dengan lebih ringan dan bermartabat.

Namun, apresiasi saja tidak cukup. Kebijakan ini harus dikawal dengan kesungguhan. Daycare yang dihadirkan tidak boleh sekadar menjadi ruang penitipan, tetapi harus menjadi ruang pengasuhan yang berkualitas yang tidak hanya menjaga, tetapi juga mendidik; tidak hanya mengawasi, tetapi juga menumbuhkan nilai. Sebab, anak-anak yang dititipkan di sana adalah generasi penerus bangsa, yang kelak menentukan arah Indonesia.

Sebagai bagian dari pandangan yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan, fasilitas daycare idealnya tidak menggantikan peran orang tua, melainkan mendukungnya. Negara perlu memastikan layanan ini selaras dengan nilai-nilai pengasuhan yang baik, memperhatikan aspek moral, emosional, dan spiritual anak. Dengan demikian, perempuan dapat bekerja dengan tenang, tanpa kehilangan keterhubungan batin dengan anak-anaknya.

Saya memandang bahwa kebijakan ini harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat perlindungan terhadap buruh perempuan secara menyeluruh. Sebab, tantangan yang dihadapi perempuan di dunia kerja tidak berhenti pada urusan pengasuhan anak. Masih ada persoalan kesenjangan upah, terbatasnya akses terhadap jabatan strategis, hingga kerentanan terhadap pelecehan dan diskriminasi.

Dalam kerangka keadilan sosial, perempuan berhak mendapatkan perlindungan yang utuh. Hak cuti melahirkan yang layak, jaminan kesehatan ibu dan anak, serta lingkungan kerja yang aman dan bermartabat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan buruh perempuan. Negara dan dunia usaha harus berjalan seiring untuk memastikan hal ini terwujud.

Lebih jauh, penting untuk mendorong budaya kerja yang lebih ramah keluarga. Fleksibilitas waktu kerja, dukungan terhadap peran ayah dalam pengasuhan, serta kebijakan yang tidak mendiskriminasi perempuan karena statusnya sebagai ibu adalah langkah-langkah yang perlu diperkuat. Sebab, membangun keluarga yang kuat bukan hanya tanggung jawab perempuan, melainkan tanggung jawab bersama.

Dalam bahasa yang lebih lembut, perempuan pekerja adalah penjaga dua cahaya, yakni cahaya di ruang kerja dan cahaya di dalam rumah. Keduanya tidak boleh dipadamkan oleh sistem yang tidak adil. Justru sebaliknya, negara harus hadir untuk memastikan keduanya dapat menyala dengan seimbang.

Hari Buruh Internasional seharusnya menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada angka-angka ekonomi. Ia harus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan ketahanan keluarga. Sebab, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh produktivitas, tetapi juga oleh kualitas generasi yang lahir dari keluarga-keluarga yang kokoh.

Janji tentang daycare adalah langkah awal yang baik. Namun, ia harus diiringi dengan kebijakan yang lebih luas dan berkelanjutan. Pemerintah perlu melibatkan berbagai pihak–dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal–untuk memastikan program ini berjalan efektif dan menjangkau mereka yang paling membutuhkan, termasuk pekerja di sektor informal.

Pada sisi lain, perempuan juga perlu terus diberdayakan. Akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, dan peluang usaha harus diperluas agar mereka dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam hal ini, peran negara sangat penting sebagai fasilitator dan pelindung.

Akhirnya, kita kembali pada esensi Hari Buruh: perjuangan dan harapan. Bagi perempuan, perjuangan itu sering kali sunyi, tetapi dampaknya nyata. Mereka bekerja bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan anak-anak mereka.

Semoga komitmen yang telah disampaikan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi kebijakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh jutaan perempuan Indonesia. Sebab, ketika perempuan dimuliakan dan dilindungi, ketika keluarga dikuatkan, maka di situlah fondasi bangsa akan berdiri dengan kokoh.

Dan di setiap langkah perempuan pekerja, ada doa yang terpatri, agar lelah menjadi berkah, agar kerja menjadi ibadah, dan agar setiap kebijakan yang lahir benar-benar berpihak pada keadilan.

Untuk setiap perempuan pekerja yang menenun hari dengan sabar, yang menguatkan keluarga sambil menegakkan martabat diri, terima kasih atas keteguhan dan pengabdian yang tak selalu terlihat, tetapi selalu terasa. 

Semoga setiap lelah bernilai pahala, setiap langkah berbuah keberkahan, dan setiap ikhtiar menghadirkan kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Mari kita terus menguatkan solidaritas, memperjuangkan keadilan, dan memastikan setiap buruh, terutama perempuan, mendapatkan haknya secara utuh dan bermartabat. Karena ketika buruh sejahtera dan keluarga terjaga, di sanalah Indonesia menemukan kekuatannya.

Selamat Hari Buruh Internasional!