Jakarta (02/02) — Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Junaidi Auly, menegaskan pentingnya komitmen transfer teknologi yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan industri baterai, sistem penyimpanan energi (ESS), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional sebagai bagian dari ekosistem investasi strategis nasional. Penegasan ini disampaikan Junaidi Auly dalam kapasitasnya sebagai Anggota Komisi XII DPR RI pada rapat dengar pendapat bersama PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation/IBC) di Jakarta, 2 Februari 2026.
Junaidi menilai bahwa pembangunan pabrik dan realisasi investasi, meskipun krusial, belum cukup untuk menjamin keberlanjutan hilirisasi industri. Keberhasilan sejati, menurutnya, diukur dari kemampuan Indonesia dalam mengakumulasi kapabilitas teknologi domestik yang berjalan seiring dengan pengelolaan dampak lingkungan secara bertanggung jawab. Hal ini mencakup penguasaan rekayasa material, pengembangan cathode active material (CAM), produksi sel baterai, hingga desain dan integrasi battery management system (BMS) serta sistem penyimpanan energi yang efisien dan ramah lingkungan.
“IBC harus diposisikan sebagai simpul pembelajaran, pengembangan teknologi, sekaligus pengarusutamaan standar keberlanjutan industri nasional, bukan sekadar pusat manufaktur. Setiap kemitraan strategis perlu memastikan keterlibatan aktif SDM dan lembaga riset nasional dalam proses desain, produksi, inovasi, serta penerapan praktik industri hijau,” ujar Junaidi.
Lebih lanjut, Junaidi Auly mendorong agar seluruh skema kerja sama dan pembiayaan yang difasilitasi melalui ekosistem BPI Danantara dilengkapi dengan klausul penguatan kapasitas nasional dan komitmen lingkungan. Hal ini mencakup kewajiban pembentukan pusat riset dan pengembangan di dalam negeri, program sertifikasi dan pelatihan tenaga kerja teknologi tinggi, penerapan standar emisi dan efisiensi energi, serta kolaborasi berkelanjutan dengan perguruan tinggi dan lembaga riset nasional.
Dalam konteks transisi energi dan penguatan sistem tenaga surya serta penyimpanan energi, IBC diharapkan berperan aktif dalam mengembangkan standar nasional baterai dan ESS yang tidak hanya sesuai dengan karakteristik iklim dan kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memenuhi prinsip keselamatan, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan. Langkah ini dipandang strategis untuk mendorong lokalisasi rantai pasok bernilai teknologi tinggi, seperti komponen BMS, integrasi inverter, dan sistem keselamatan energi berbasis standar hijau.
Junaidi menekankan bahwa integrasi ekonomi sirkular dan teknologi daur ulang harus menjadi bagian dari agenda transfer teknologi jangka panjang. Upaya ini dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan pasokan material kritis, menekan dampak lingkungan, serta membangun kedaulatan industri energi nasional yang berdaya saing global.
Dengan demikian, Junaidi Auly menegaskan bahwa sinergi antara IBC sebagai pelaksana industrial dan BPI Danantara sebagai arsitek investasi strategis diharapkan mampu mendorong transformasi Indonesia dari basis manufaktur menuju pusat pengembangan teknologi dan praktik industri berkelanjutan dalam rantai nilai global baterai dan energi terbarukan.