Jakarta (07/01) — Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid, menegaskan bahwa M. Natsir adalah sosok yang penting diteladani oleh semua generasi muda, termasuk Generasi Z. Natsir merupakan tokoh besar yang berjasa menyelamatkan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), setelah sebelumnya “dikubur” oleh Belanda dan diubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).
Tokoh yang berhasil mengembalikan Indonesia menjadi NKRI tersebut merupakan pimpinan Partai Islam Masyumi sekaligus Ketua Fraksi Masyumi di DPR RIS. Selain itu, Natsir dikenal sebagai pribadi yang berjiwa sosial tinggi, terpelajar, sederhana, serta negarawan yang disegani oleh kawan maupun lawan.
Sekalipun banyak dilupakan, tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu jasa terbesar M. Natsir bagi bangsa dan negara Indonesia adalah keberhasilannya mengembalikan cita-cita Indonesia merdeka menjadi NKRI ke pangkuan ibu pertiwi. Perjuangan tersebut dilakukan karena NKRI yang telah disepakati dan dicita-citakan—serta dimasukkan ke dalam UUD 1945 Bab I Pasal 1 Ayat (1)—telah diganti oleh Belanda menjadi RIS, sesuai hasil perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949.
“Pada 3 April 1950, di depan Sidang Paripurna DPRS RIS, Natsir menyampaikan Mosi Integral. Keberaniannya menyampaikan ide yang juga merupakan aspirasi rakyat itu disetujui oleh seluruh peserta sidang paripurna dari semua fraksi, termasuk Presiden RIS Soekarno. Pada 17 Agustus 1950, Presiden Soekarno memproklamasikan Indonesia kembali menjadi NKRI sesuai Mosi Integral yang disampaikan Natsir. Selanjutnya, Presiden Soekarno menetapkan M. Natsir sebagai Perdana Menteri Indonesia pertama di era NKRI. Pada masa itulah Indonesia diakui sebagai negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” ungkap Hidayat Nur Wahid atau HNW.
Pernyataan tersebut disampaikan Hidayat saat menerima audiensi Gerakan Literasi Teladan Tokoh Bangsa. Pertemuan berlangsung di Ruang Kerja Wakil Ketua MPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026). Delegasi Gerakan Literasi Teladan Tokoh Bangsa dipimpin oleh Wildan Hasan.
Dalam kesempatan tersebut, delegasi menyampaikan niat untuk mereaktualisasi pemikiran M. Natsir di berbagai bidang, salah satunya melalui penerbitan buku tentang pemikiran M. Natsir. Buku tersebut direncanakan antara lain diperuntukkan bagi Generasi Z.
Hidayat Nur Wahid menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penulisan buku tentang M. Natsir untuk Generasi Z tersebut. Menurutnya, pemikiran dan perjuangan Natsir sangat layak untuk terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi muda, termasuk Generasi Z, baik melalui tulisan maupun terobosan lain demi kepentingan generasi mendatang.
“Generasi Z sering diframing sebagai generasi yang tidak peduli sejarah, antisosial, malas bergerak dan berpikir, serta hanya menginginkan hasil akhir tanpa proses. Semua itu perlu diklarifikasi, bahkan dikoreksi, dan menjadi bagian penting dalam buku yang akan ditulis nanti. Framing tersebut menyesatkan, terlebih terhadap Generasi Z muda Islam yang aktif di organisasi pelajar dan mahasiswa Islam, maupun yang hidup di madrasah dan pondok pesantren. Mereka sangat peduli sosial, menghormati dan mendoakan para pahlawan bangsa, rajin belajar, serta aktif berorganisasi,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar framing negatif terhadap Generasi Z tidak dibiarkan, karena dapat berdampak buruk, seperti hilangnya orientasi generasi muda akibat tercerabut dari sejarah, serta lahirnya generasi yang tidak berkeunggulan karena dibuai pandangan serba instan. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi melahirkan bonus demografi yang negatif, bukan positif.
“Ketika Generasi Z, khususnya yang Muslim, justru menjadikan M. Natsir dan keteladanan para ulama sebagai inspirasi sejarah, mereka akan mampu mengisi dan mengawal cita-cita Proklamasi serta tuntutan Reformasi yang tetap relevan dan bisa dimenangkan. Dengan meneladani M. Natsir melalui Mosi Integral, dikotomi antara kebangsaan dan keislaman dapat diselesaikan. Generasi Z pun dapat keluar dari jebakan framing negatif dan berkreasi secara konstruktif sebagai generasi emas menuju Indonesia Emas 2045,” tutur Hidayat.
Pimpinan Delegasi Gerakan Literasi Teladan Tokoh Bangsa menyambut antusias paparan tersebut dan berharap diskusi konstruktif ini dapat terus berlanjut. Mereka juga meminta Hidayat Nur Wahid untuk menuliskan kata pengantar bagi buku tentang M. Natsir untuk Generasi Z yang akan mereka terbitkan.