Jakarta (11/11) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS dari Dapil Jawa Barat I yang juga Sekretaris Fraksi PKS DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menerima kunjungan edukatif dan aspirasi dari SMA Islam Cendikia Muda di Ruang Rapat Pleno Fraksi PKS DPR RI, Gedung Nusantara I Lantai 3, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk memahami langsung proses kerja DPR RI, dinamika legislasi, serta peran fraksi dan alat kelengkapan dewan dalam pengambilan keputusan.
Rombongan dipimpin oleh pihak sekolah yang menyampaikan apresiasi atas kesempatan berdialog serta menegaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memperluas wawasan siswa mengenai tugas anggota DPR RI, proses pembentukan undang-undang, dan kerja-kerja representasi di parlemen.
Dalam pemaparannya, Ledia menjelaskan berbagai aspek tugas legislator mulai dari mekanisme penentuan kursi, peran fraksi, dinamika pembahasan RUU, hingga pentingnya ketepatan data dalam sebuah usulan kebijakan. Ia menjelaskan bahwa perubahan paradigma kebijakan publik sering kali memerlukan perspektif dan pembacaan yang tajam. Mengambil contoh penyusunan UU Penyandang Disabilitas yang pernah ia pimpin sebagai Ketua Panitia Kerja, Ledia menekankan pergeseran penting dari pendekatan charity-based menuju rights-based yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek yang memiliki hak penuh.
“Kita perlu kejelian dalam memahami substansi, keberanian untuk mengambil keputusan, dan keluasan dalam mengkomunikasikan gagasan. Tiga hal ini menjadi kunci bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam dunia kebijakan dan advokasi,” ujarnya.
Ia juga menggambarkan bagaimana proses legislasi melibatkan kajian akademik, analisis dampak, lobi antar-fraksi, serta diskusi komprehensif dalam komisi dan badan legislasi. Ledia menekankan bahwa pendapat masyarakat dan hasil penelitian sangat penting untuk menguji sebuah kebijakan sebelum ditetapkan. “Regulasi tidak bisa muncul begitu saja. Setiap aturan menuntut analisa, pembuktian, dan sandingan data agar keputusan yang diambil tepat dan tidak menimbulkan persoalan baru,” jelasnya dalam sesi dialog.
Menanggapi pertanyaan siswa mengenai alur penentuan pasal dalam sebuah RUU, Ledia memberikan ilustrasi rinci tentang bagaimana perbedaan pandangan disatukan melalui mekanisme politik, negosiasi, dan argumentasi berbasis data. “Kadang ada usulan yang terlihat baik, tetapi setelah dikaji justru membuka potensi masalah di lapangan. Karena itu kemampuan melihat detail dan menganalisa konteks menjadi sangat krusial,” tambahnya.
Ledia juga mendorong para siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan analitis sejak sekolah. Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan, termasuk evaluasi seperti TKA atau asesmen berbasis HOTS, bertujuan melatih kemampuan sintesis dan analisa yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan profesional dan pengambilan keputusan.
Di akhir pertemuan, Ledia memberikan pesan motivatif kepada para siswa agar terus belajar dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memikul tanggung jawab publik. “Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan keberkahan ilmu kalian. Saya doakan kalian kelak diberi amanah-amanah penting dan mampu menjalankannya dengan baik,” ujarnya.